Penemuan virus komputer Flame, yang
tersebar tak terdeteksi selama bertahun-tahun di Timur Tengah, menunjukkan
dunia telah memasuki era baru spionase dan sabotase global.
Para pengamat dunia siber
mengatakan, Flame adalah perangkat lunak jahat (malware) yang bisa diadaptasi
dan disebarkan ke berbagai infrastruktur vital di seluruh negara di dunia.
Para pejabat Iran, negara yang
diduga menjadi sasaran utama serangan Flame, mengatakan, virus itu sempat
menyerang sektor industri minyak Iran, pertengahan April. Serangan itu memicu
para teknisi Iran memutus seluruh koneksi internet di kantor kementerian
perminyakan, anjungan-anjungan pengeboran minyak, dan terminal minyak di Pulau
Khark.
Terminal minyak Pulau Khark adalah
pintu ekspor bagi sekitar 80 persen total produksi minyak Iran sebesar 2,2 juta
barrel per hari.
”Virus ini menembus berbagai sektor,
salah satunya sektor industri minyak. Untungnya kami berhasil mendeteksi dan
mengendalikan satu insiden ini,” kata Gholam Reza Jalali, komandan unit
antisabotase militer Iran, Rabu (30/5).
Menurut Jalali, sektor industri
minyak adalah satu-satunya institusi Pemerint`h Iran yang terkena dampak serius
serangan Flame, dan saat ini semua data yang hilang telah dipulihkan.
Virus itu pertama kali ditemukan dan
diberi nama ”Flame” oleh Kaspersky Lab. Perusahaan keamanan komputer asal Rusia
itu memburu virus tersebut beberapa bulan terakhir atas permintaan Uni
Telekomunikasi Internasional (ITU), badan PBB yang mengatur teknologi informasi
dan komunikasi di dunia.
Marco Obiso, koordinator bidang
keamanan siber ITU, mengatakan, virus baru ini sangat kompleks dan canggih.
Ukuran virus tersebut mencapai 20 megabyte, atau sekitar 20-30 kali lipat lebih
besar dari ukuran file virus biasa.
Rangkaian serangan
Flame memiliki kemampuan
memata-matai hampir seluruh aktivitas dan mencuri data komputer yang
terinfeksi. Mulai dari merekam ketikan tombol-tombol di papan ketik
(keystrokes), merekam tampilan layar yang sedang dibuka, sampai mengaktifkan
mikrofon internal komputer (seperti terpasang di laptop atau webcam) untuk
menguping pembicaraan pengguna komputer.
Selain itu, virus tersebut juga
mampu mengaktifkan koneksi Bluetooth komputer dan membuat sambungan ke seluruh
telepon seluler di sekitar komputer untuk mencuri berbagai data, seperti daftar
kontak pribadi.
Pendiri Kaspersky Lab, Eugene
Kaspersky, mengatakan, Flame diduga kuat masih satu rangkaian dengan serangan
virus Stuxnet dan Duqu yang lebih dulu ditemukan.
Dua tahun lalu, fasilitas pengayaan
nuklir Iran diserang virus Stuxnet. Virus tersebut mengacaukan sistem kontrol
alat centrifuge sehingga berputar tak terkendali dan akhirnya rusak. Akibat
serangan itu, program nuklir Iran sempat terhenti beberapa waktu.
”Stuxnet dan Duqu adalah satu rangkaian
serangan, yang memunculkan kekhawatiran soal perang siber global. Malware Flame
sepertinya fase lanjut dari serangan ini, dan mudah dipahami bahwa senjata
siber seperti itu bisa dengan mudah digunakan untuk menyerang negara mana pun,”
ujar Kaspersky.
Berbeda dengan senjata konvensional
yang membutuhkan sumber daya khusus untuk membuatnya, virus komputer pada
prinsipnya bisa digunakan dan dimodifikasi oleh setiap orang dengan kemampuan
pemrograman komputer.
”Yang menakutkan, negara tak lagi bisa memonopoli
kemampuan ini,” tutur Tom Kellerman, mantan komisaris dewan keamanan siber
untuk Presiden AS Barack Obama.
By : tekno.kompas.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar