Minggu, 30 Oktober 2011

Kasih yang lenyap



Malang,17 desember 2004

Seminggu sebelum kejadian tsunami di aceh aku mulai pertama kali belajar menulis sebuah karya yang kuanggap serius.dengan tulisan yang tidak karuan jeleknya baik segi bentuk tulisan maupun isi tulisan tersebut.inilah puisi pertamaku dalam ‘karya’ tsb.
Suatu hari yang tidak terlupakan
Ku tak mau ini terjadi lagi
            Dalam perjalanan hidup yang menyedihkan
            Mengapa aku jadi begini
Ku tak sadar aku berbuat kesalahan
Tanpa mengetahui alasan yang memastikan
            Mungkin dalam dunia berbagai macam cobaan
            Dan merasa tertusuk ancaman
            Dalam benak-benak bayangan

Bulan mulai turun dari tangga waktu.matahari mulai bangun dari tidurnya semalaman.kabut-kabut yang menyeliputi dunia mulai naik dari lapisan awan,mulai menandakan waktu pagi...

Kemudian aku telah beranjak kelas satu SMA;sebuah karya yang tak pernah tersalurkan...Kasih yang lenyap(cerpen yang memakai bahasa terlalu  penyair)


Gilang gemilang sinar meronta-ronta meminang hati dengan paksa.jiwa sayup-sayup daunpun begitu.angkara nafsu berkeliaran  berusaha membunuh sosok nurani kehidupan.dalam hatinya terbuka jalan umum.baik buruk,jahat bijak,indah jelek semuanya melintas mulus dalam lorong itu.
            Sesosok cakrawala membentur dihadapannya.
            “oh,indahnya siang ini.siang pengingat kisah klasikku dengan dia”.suatu waktu,sekarang adalah genap lima tahun aku berpisah dengannya.”gerangan apa saja yang mengisahkan kita kasih,aku ingat betul tentangya”.
            Fajar,raut muka pedih keruh menenggelamkannya.beranjak dari sesuatu yang tak jelas merubah perasaannya menjadi malang,gejolak air mata meredupkan kebahagiaan.keluh kesah rindu tiada tara menggenang dalam samudra jiwa.

ü   

Cit cit cuit burung merebah memulai pagi dengan membentangkan sayap,berjemur dengan cahaya pagi dengan perjalanan tandas meraba kesejukan bermulai kehidupan di pagi ini.
Tersebar kabar yang menyentuh gendang telinganya.
“fajar,kali ini kugelarkan kado terbesar untukmu.permintamaafan yang memadat.segal kesalahanku,kumohon hapuslah dengan ucapan maaf dari mulutmu yang sekarang masih membisu untukku”ucap vivi tangah pembicaraan sesaat setelah berjumpa fajar di ruang kelas yang agak sepi.”gerangan apakah yang membuat mu berkata-kata seperti itu?”
Kala itu,remang-remang pembicaraan romantika merambat.menggetarkan jiwa malu-malu,fajar dengannya.pertanyaan sepinntas tadi membuka alur cerita yang terindah dari kesekian kalinya dalam kehidupan mereka berdua.
Derap untaian kaki menjejakkan kebisingan dalm kesenyapan melambaikan sayapnya tanpa aturan.hati mereka berdua penuh kata-kata megah yang masih terkunci dalm gerbong keheningan.
Siang penuh terka,beranjak dewasa dari usia remaja.keduanya berjaln beriringan suatu waktu saat pulang sekolah menemani mereka.
“vivi,kamu masih serius dengan perkataan mu tadi?””sebenarnya aku juga sangat tidak ingin semuanya terjadi.semua itu terjadi tersa dan terlalu cepat untukku jalani.”keluh vivi merunduk.
Sebentar tak sadar fajar terringat sekilas perkataan vivi dari perbincangan tadi pagi.’dekat ini,aku akan pindah ke kota surabaya karena terikat oleh tugas ayahku selam lima tahun dan..mungkin ini adalah saat-saat terkhir bagi kita berdua.aku tahu,kau pasti akan merindukan aku,akupun juga begitu.kau ingat burung kenari yang kita temukan di kebun pamanmu?” ”ya,aku ingat betul tentang itu.oh,perjalanan kehidupan,sekials duka cita telah tergores pada lembar sejarah kita yang silam” “aku punya satu permohonan untukmu” “apa itu?” “tolong,jaga dan rawatalh burung kecil yang malang itu hingga saatnya aku berda disampingmu kembali .” “oh,begitu”
Hening,
“vivi aku punya satu perkataan untukmu.ku mohon terimalah perkataan ini walaupun pahit manis menyiram perasaanmu.” “apa itu?” “tentang...tentang...” “ayolah,katakn saja padaku aku tak marah kok.”
Memecah perbincangan,suara itu menghentikan pelarian menuju suatu klimaks pembicaraan,pembicaraan fajar dengannya.suara sepeda motor makin mengisi tatapan jiwa.
“vivi!”seru suara dari sepeda motor yang akhirnya berhenti di depan mereka berdua.”anakku,maafkan ayah tadi ayah hampir lupa menjemputmu.” “nggak apa kok yah” “oh ya,terima kasih ya fajar sudah menemani putriku  pulang dan nggak keberatan jika aku duluan soalnya ada urusan penting pada keluarga kami sebentar lagi” “oh,nggak apa-apa kok om” “ya sudah,kami pulang dulu ya.oh ya,terima kasih banyak ya karena sudah menemani putriku selama ini dan maafkan kami bila da sesuatu yang salah pada diri kami soalnya kami sekeluarga akan pindah ke surabaya karena da suatu urusan” “oh,nggak apa-apa kok om” “kalau begitu kami pulang dulu ya”.
Sekelumit rekaan perbincangan fajar yang tak ada benarnya bagi hatinya merasa mengganjal.sungguh,ya sungguh.mungkin itulah kata yang pasti bagi hatinya.
‘gagal!,dasar sial,mengapa aku bisa gagal,kata terakhir yang mestinya ku ucapkan padanya ‘aku sayang padamu gagal sudah.
Kini rindu di hati .penyesalan,keputusasaan,ketiadaanakan keteguhan hati menjerit-jerit membisingkan ruang hati,membunuh perasaantanpa ada sesuatu sedikitpun yang akan kembali padanya.
Mereka berdua lenyap dihadapan fajar,lenyap dari ruang matanya yang membisu,mengalir deras air mata padanya.
Gelap,sunyi senyap,hening,semua mencekam jiwanya.rasa putus asa bertambah,sedih berkala tetap tegar menghadangnya.
“rasa-rasanya aku tak akan bertemu vivi kembali.dia...dia...dia pergi menghilang dari sisiku.suara itu,wajah itu,masih saja menerawangku dengan mengecilkan dirinya dariku,hingga dia lenyap tersaput kesemuan dan tak akan kutemukan lagi secuil bayangannya yang diperuntukkan bagiku,prasangka buruk!”
Esok harinya tak kutemukan kabar sediktpun darinya.dia ke rumahnya tetapi yang ada hanyalah sepucuk surat terkirim darinya bagi fajar dari teman sebangkunya.bertuliskan tinta biru mengharap agar dengan datangnya surat tersebut dapat memadamkan perasaan fajar yang berkobar karena dirinya.
Fajar,ternyata memang benar apa yang kukatakan kemarin.semuanya terjadi terasa dan terlalu cepat untuk kujalani.aku...dengan selembar kertas ini aku ingin mengucapkan kata terakhir untukmu dan seetelah ini mungkin ...mungkin...mungkin tak ada kata lagi yang tersalurkan dariku untukmu.
Aku...aku...aku sebenarnya sayang padamu.aku tahu tentang itu dan aku juga sangat tahu kalau kamu juga sayang padaku.tetapi...karena sesuatu yang memisahkan kita berdua kita tak dapat bersama lagi.meskipun sesuatu telah membentangkan kita berdua aku akan selalu menunggumu ,menunggu..dan selalu menunggu..sampai saatnya tiba.
Itulah pesan terakhir yang tersampaikanpadanya.setelah itu kabar anginpun tak menetes pada hatinya.
Lima tahun,genap lima tahun berpisah dengan vivi.saat-saat bahagia masih terpampang dihadapannya dalam bayangan pikiran yang melayang.berputar-putar,berenang dalam samudra angan-angan.

ü   

Raja siang,selimutnya terhalang oleh pepohonan.sebatas mata menerawang secercah ruang bergerak seuntai cahaya berpangku dalam kelopak mata.kenari nan indah megah perkasa tumbuh remaja layaknya manusia.kini dia telah kabur bayangannya.tak ditemui sedikitpun sedikit jejak tubuh kenari di halaman rumah fajar.mengucur bergejolak air mata hati mengendap membungkam bisu perasaan dalam jiwa.
Kenangan tinggal angan-angan,berakhir kesepian yang senggang tersaput kesedihan.gontai layu meresap kala waktu berlubang.
 Tit tit tit,suara bel mobil didepan rumah mendadak menghapus lamunan fajar .nampaknya ada tamu.beranjak tamu itu kembali pulang.waktu yang diberikan oleh tamu hanya secuil,hanya untuk menyampaikan surat.
Fajar yang ramah,sebelum dan sa’at tamu datang tak terukir dalam hatinya sesuatu yang tidak diinginkannya akan terjadi.tetapi atas suatu kejadian setelah membuka surat itu,bertempur rasa tak karuan melebihi rasa rindu sepintas melekat padanya tadi.memuncak mengambang laksana kepulan asap perlahan menghilang.
Surat itu didesain agar si penerima merasa bahagia.surat undangan pernikahan bertuliskan ‘mohon do’a restu,mempelai vivi maulidy dengan adi ernanda’…

Tidak ada komentar: