Malang,17 desember 2004
Seminggu sebelum kejadian tsunami di aceh aku mulai
pertama kali belajar menulis sebuah karya yang kuanggap serius.dengan tulisan
yang tidak karuan jeleknya baik segi bentuk tulisan maupun isi tulisan
tersebut.inilah puisi pertamaku dalam ‘karya’ tsb.
Suatu hari yang tidak terlupakan
Ku tak mau ini terjadi lagi
Dalam
perjalanan hidup yang menyedihkan
Mengapa
aku jadi begini
Ku tak sadar aku berbuat kesalahan
Tanpa mengetahui alasan yang memastikan
Mungkin
dalam dunia berbagai macam cobaan
Dan
merasa tertusuk ancaman
Dalam
benak-benak bayangan
Bulan mulai turun dari tangga waktu.matahari mulai
bangun dari tidurnya semalaman.kabut-kabut yang menyeliputi dunia mulai naik
dari lapisan awan,mulai menandakan waktu pagi...
Kemudian aku telah beranjak kelas satu SMA;sebuah
karya yang tak pernah tersalurkan...Kasih yang lenyap(cerpen yang memakai
bahasa terlalu penyair)
Gilang gemilang sinar
meronta-ronta meminang hati dengan paksa.jiwa sayup-sayup daunpun
begitu.angkara nafsu berkeliaran
berusaha membunuh sosok nurani kehidupan.dalam hatinya terbuka jalan
umum.baik buruk,jahat bijak,indah jelek semuanya melintas mulus dalam lorong
itu.
Sesosok
cakrawala membentur dihadapannya.
“oh,indahnya
siang ini.siang pengingat kisah klasikku dengan dia”.suatu waktu,sekarang
adalah genap lima
tahun aku berpisah dengannya.”gerangan apa saja yang mengisahkan kita kasih,aku
ingat betul tentangya”.
Fajar,raut
muka pedih keruh menenggelamkannya.beranjak dari sesuatu yang tak jelas merubah
perasaannya menjadi malang,gejolak air mata
meredupkan kebahagiaan.keluh kesah rindu tiada tara
menggenang dalam samudra jiwa.
ü
Cit cit cuit burung
merebah memulai pagi dengan membentangkan sayap,berjemur dengan cahaya pagi
dengan perjalanan tandas meraba kesejukan bermulai kehidupan di pagi ini.
Tersebar kabar yang
menyentuh gendang telinganya.
“fajar,kali ini kugelarkan
kado terbesar untukmu.permintamaafan yang memadat.segal kesalahanku,kumohon
hapuslah dengan ucapan maaf dari mulutmu yang sekarang masih membisu
untukku”ucap vivi tangah pembicaraan sesaat setelah berjumpa fajar di ruang
kelas yang agak sepi.”gerangan apakah yang membuat mu berkata-kata seperti
itu?”
Kala itu,remang-remang
pembicaraan romantika merambat.menggetarkan jiwa malu-malu,fajar
dengannya.pertanyaan sepinntas tadi membuka alur cerita yang terindah dari
kesekian kalinya dalam kehidupan mereka berdua.
Derap untaian kaki
menjejakkan kebisingan dalm kesenyapan melambaikan sayapnya tanpa aturan.hati
mereka berdua penuh kata-kata megah yang masih terkunci dalm gerbong
keheningan.
Siang penuh terka,beranjak
dewasa dari usia remaja.keduanya berjaln beriringan suatu waktu saat pulang
sekolah menemani mereka.
“vivi,kamu masih serius
dengan perkataan mu tadi?””sebenarnya aku juga sangat tidak ingin semuanya
terjadi.semua itu terjadi tersa dan terlalu cepat untukku jalani.”keluh vivi
merunduk.
Sebentar tak sadar fajar
terringat sekilas perkataan vivi dari perbincangan tadi pagi.’dekat ini,aku
akan pindah ke kota surabaya
karena terikat oleh tugas ayahku selam lima
tahun dan..mungkin ini adalah saat-saat terkhir bagi kita berdua.aku tahu,kau
pasti akan merindukan aku,akupun juga begitu.kau ingat burung kenari yang kita
temukan di kebun pamanmu?” ”ya,aku ingat betul tentang itu.oh,perjalanan
kehidupan,sekials duka cita telah tergores pada lembar sejarah kita yang silam”
“aku punya satu permohonan untukmu” “apa itu?” “tolong,jaga dan rawatalh burung
kecil yang malang
itu hingga saatnya aku berda disampingmu kembali .” “oh,begitu”
Hening,
“vivi aku punya satu
perkataan untukmu.ku mohon terimalah perkataan ini walaupun pahit manis
menyiram perasaanmu.” “apa itu?” “tentang...tentang...” “ayolah,katakn saja
padaku aku tak marah kok.”
Memecah perbincangan,suara
itu menghentikan pelarian menuju suatu klimaks pembicaraan,pembicaraan fajar
dengannya.suara sepeda motor makin mengisi tatapan jiwa.
“vivi!”seru suara dari
sepeda motor yang akhirnya berhenti di depan mereka berdua.”anakku,maafkan ayah
tadi ayah hampir lupa menjemputmu.” “nggak apa kok yah” “oh ya,terima kasih ya
fajar sudah menemani putriku pulang dan
nggak keberatan jika aku duluan soalnya ada urusan penting pada keluarga kami
sebentar lagi” “oh,nggak apa-apa kok om” “ya sudah,kami pulang dulu ya.oh
ya,terima kasih banyak ya karena sudah menemani putriku selama ini dan maafkan
kami bila da sesuatu yang salah pada diri kami soalnya kami sekeluarga akan
pindah ke surabaya karena da suatu urusan” “oh,nggak apa-apa kok om” “kalau
begitu kami pulang dulu ya”.
Sekelumit rekaan
perbincangan fajar yang tak ada benarnya bagi hatinya merasa
mengganjal.sungguh,ya sungguh.mungkin itulah kata yang pasti bagi hatinya.
‘gagal!,dasar sial,mengapa
aku bisa gagal,kata terakhir yang mestinya ku ucapkan padanya ‘aku sayang
padamu gagal sudah.
Kini rindu di hati
.penyesalan,keputusasaan,ketiadaanakan keteguhan hati menjerit-jerit
membisingkan ruang hati,membunuh perasaantanpa ada sesuatu sedikitpun yang akan
kembali padanya.
Mereka berdua lenyap
dihadapan fajar,lenyap dari ruang matanya yang membisu,mengalir deras air mata
padanya.
Gelap,sunyi
senyap,hening,semua mencekam jiwanya.rasa putus asa bertambah,sedih berkala
tetap tegar menghadangnya.
“rasa-rasanya aku tak akan
bertemu vivi kembali.dia...dia...dia pergi menghilang dari sisiku.suara
itu,wajah itu,masih saja menerawangku dengan mengecilkan dirinya dariku,hingga
dia lenyap tersaput kesemuan dan tak akan kutemukan lagi secuil bayangannya
yang diperuntukkan bagiku,prasangka buruk!”
Esok harinya tak kutemukan
kabar sediktpun darinya.dia ke rumahnya tetapi yang ada hanyalah sepucuk surat terkirim darinya bagi fajar dari teman
sebangkunya.bertuliskan tinta biru mengharap agar dengan datangnya surat tersebut dapat
memadamkan perasaan fajar yang berkobar karena dirinya.
Fajar,ternyata memang
benar apa yang kukatakan kemarin.semuanya terjadi terasa dan terlalu cepat
untuk kujalani.aku...dengan selembar kertas ini aku ingin mengucapkan kata
terakhir untukmu dan seetelah ini mungkin ...mungkin...mungkin tak ada kata
lagi yang tersalurkan dariku untukmu.
Aku...aku...aku sebenarnya
sayang padamu.aku tahu tentang itu dan aku juga sangat tahu kalau kamu juga
sayang padaku.tetapi...karena sesuatu yang memisahkan kita berdua kita tak
dapat bersama lagi.meskipun sesuatu telah membentangkan kita berdua aku akan
selalu menunggumu ,menunggu..dan selalu menunggu..sampai saatnya tiba.
Itulah pesan terakhir yang
tersampaikanpadanya.setelah itu kabar anginpun tak menetes pada hatinya.
Lima
tahun,genap lima
tahun berpisah dengan vivi.saat-saat bahagia masih terpampang dihadapannya
dalam bayangan pikiran yang melayang.berputar-putar,berenang dalam samudra
angan-angan.
ü
Raja siang,selimutnya
terhalang oleh pepohonan.sebatas mata menerawang secercah ruang bergerak
seuntai cahaya berpangku dalam kelopak mata.kenari nan indah megah perkasa
tumbuh remaja layaknya manusia.kini dia telah kabur bayangannya.tak ditemui
sedikitpun sedikit jejak tubuh kenari di halaman rumah fajar.mengucur
bergejolak air mata hati mengendap membungkam bisu perasaan dalam jiwa.
Kenangan tinggal
angan-angan,berakhir kesepian yang senggang tersaput kesedihan.gontai layu
meresap kala waktu berlubang.
Tit tit tit,suara bel mobil didepan rumah
mendadak menghapus lamunan fajar .nampaknya ada tamu.beranjak tamu itu kembali
pulang.waktu yang diberikan oleh tamu hanya secuil,hanya untuk menyampaikan surat.
Fajar yang ramah,sebelum
dan sa’at tamu datang tak terukir dalam hatinya sesuatu yang tidak
diinginkannya akan terjadi.tetapi atas suatu kejadian setelah membuka surat itu,bertempur rasa
tak karuan melebihi rasa rindu sepintas melekat padanya tadi.memuncak
mengambang laksana kepulan asap perlahan menghilang.
Surat itu didesain agar si penerima merasa bahagia.surat
undangan pernikahan bertuliskan ‘mohon do’a restu,mempelai vivi maulidy dengan
adi ernanda’…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar