Kamis, 20 Oktober 2011

Ya sudahlah…

Ketika mimpimu yang begitu indah tak pernah terwujud, ya sudahlah…
Saat kau berlari mengejar anganmu dan tak pernah sampai, ya sudahlah…

Waktu pertama kali dia mendengar lagu itu dahinya mengkerut.
“kenapa harus ya sudahlah?!” tanyanya kepadaku waktu istirahat di kantin.
“kan judulnya emang ya sudahlah. Kalo syairnya bukan ya sudahlah tetapi jangan menyerah kan aneh… lagi pula kalo syairnya jangan menyerah nggak pas tuh ama genjrengan gitarnya.” Jawabku santai setengah bercanda tetapi dahinya tetap mengkerut. Dia menatapku dengan keras seolah berbicara bahwa dia serius. Sangat sangat serius.
“atau mungkin saja si pengarang lagu cuman pengin ngasih nasehat bahwa bagaimanapun keadaan loe meski belum juga dapet ngeraih mimpi loe tenang aja. Karena gue kan siap membantu loe. Gue kan selau ada untuk loe.”
“kalo itu udah tau gue maksudnya.”
“udah tau kok masih nanya segala? Mau ngetes?”
“maksud gue bukan itu yang gue maksud...”
“maksud loe? Gue jadi bingung sendiri, apa sih yang sebenarnya kita bahas ini?”
“ah, udahlah lupain aja. Kayak ngga’ pernah ngobrol aja ama gue. Gue kan orangnya emang sering nggak nyambung kalo ngomong.”
“eh ada yang dateng tuh…” ucapku berbisik kepada Riyan. Vivi masuk ke kantin. Riyan Cuma tersenyum malu.
“ciyee… udah samperin sana. Aplikasikan tuh ide ke tiga puluh sembilan loe kemarin yang katanya jitu untuk ngedeketinnya. Katanya loe pakar cinta.”
“udah deh jangan ngeledek gitu. Udah tau temannya nih lagi berjuang mati-matian ngerebut hatinya mulai semenjak masuk SMA sampe sekarang hampir lulus pun nggak digubris.”
“kaciyaan…” Riyan geram. Hampir saja mangkok mie yang sudah kosong itu dilempar ke arahku.
Aku memang sangat kasihan pada Riyan. Cinta pertama dan seumur-umur belum pernah ditanggapi oleh Vivi sungguh membuat Riyan hampir putus asa. Tapi saat itu pula dia ngerasa harus bangkit dan tidak boleh menyerah. “jangan menyerah” emang udah mulai kecil tertanam kuat dalam dirinya. Mengingat ekonomi keluarganya yang melorot drastis setelah ayahnya meninggal. Dia harus berjuang keras menghidupi ibunya yang sudah tua renta dan adik-adiknya yang masih kecil. Hingga akhirnya saat ini dia berhasil menjadi pengusaha yang ternama dalam usia anak SMA dengan distronya yang cukup gede. Untuk masalah asmara jangan ditanya. Temanku ini sangat setia sekali meski cinta itu tak pernah digubris oleh Vivi. Seumur-umur tak pernah ia berpaling ke cewek lain. Hanya Vivi. Dan hanya Vivi.
Aku sedikit mulai nyadar kenapa tadi dia Tanya aneh-aneh tentang kenapa sih si pengarang lagu ngeletaki kata ya sudahlah setelah kalimat yang berarti mimpi-mimpi kita tak pernah terwujud adalah karena dia nggak mau putus asa untuk ngerebut hati primadona kelas genetica(singkatan keren kelasku yang berarti generasi tiga IPA) yang sejak tiga tahun tetep bungkam. Kata ya sudahlah baginya mungkin akan mendidik para pendengar musik menjadi orang-orang yang gampang menyerah. Tapi sebenarnya bukan itu kan yang mau disampaikan pengarang lagu?(lho, kok Tanya gue? Emang gue Bondan Prakoso? Ah jangan ngatain gue adiknya deh…gue kan jadi malu kalo cewek-cewek pada tau. Nanti bisa-bisa semua pada nempel lagi kalo tau gue tuh adiknya bondan prakoso. Tapi awas! fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan lho…).
Riyan nyamperin dengan gaya khasnya yang so’ cool. Tapi Vivi tidak menggubrisnya sama sekali. Riyan yang ngomongnya ampe ludahnya muncrat-muncrat pun di tanggapi Vivi hanya dengan kata-kata simpel seperti ya atau tidak dan tetap tenang seperti nggak ada Riyan aja disana. Sesekali Vivi mengeryitkan dahinya. Mungkin udah bosan kali ya dengan kehadiran Riyan disana. Tapi kali ini dia tersenyum kepada Riyan. Oh my god. Lihatlah senyum itu. Sangat manis sekali. Itu adalah senyum yang seumur-umur belum pernah diberikan ke Riyan. Apalagi kali ini dia sedikit memperhatikan obrolan Riyan. nggak seperti yang kaya dulu-dulu yang cuma menoleh ke Riyan dengan tatapan datar kemudian berpaling ke arah lain. Entah itu ke buku yang novel yang biasa dibawanya ke mana-mana sampai dia tamat membacanya kemudian ganti novel lainnya atau mengalihkan pandangan ke gelas yang ada di depannya tanpa memperhatikan Riyan sama sekali. Seolah-olah dia sendiri disitu, tak ada Riyan untuknya.
Bel istirahat telah berakhir berbunyi.
“wah, hebat banget loe tu Bro. nglaksanain ide apalagi kok bisa ngebujuk si Vivi ngasih senyum manis ke elo. Mo ngajak ngajak kencan apa gimana? Apa mo ngajak tun`ngan?” ledekku sembari masuk kelas bersamanya.
“ngaco loe! Gue juga nggak habis pikir kenapa tiba-tiba dia tersenyum manis ke gue. Tapi kali ini gue bahagia banget.” Katanya dengan sedikit heran tapi kebahagiaan yang luar biasa yang tersirat di raut wajahnya tak bisa disimpan. Dia terlihat sangat bahagia sekali seperti baru kejatuhan buah duren di kepalanya(maksudnya?). Kebahagiaannya merekah di wajahnya seperti buah duren dibelah(maksudnya? Belah duren? Apa di atas wajahnya mo ngebelah duren? Ato wajahnya di belah seperti ngebelah buah duren?) maksudnya? Ah, maaf dah omongannya ngaco aja kayak orang ngelindur.
“mungkin aja dia mulai membuka hatinya untuk loe”
“Amiiin…” kemudian seperti biasa, dia mengangkat tangannya sambil berkomat-kamit membaca doa dengan cepat. Semua harapan kepada Vivi adalah hal sangat serius untuknya.
“Membaca Doa apa loe?”
“ngedoain loe supaya cepet pinter biar gue nggak repot-repot harus ngasih contekan ke loe waktu ulangan! Dasar item! Ya berdoa seperti biasanya lah. Bismika Allohuma ahya wa bismika wa amuut.”
“uwahaha! Itu sih doanya mo tidur. Apa loe habis ini mo bobo’ waktu pak Zam nerangin?!”
“ooo doa untuk mo tidur ya…”
“bukan, tapi mo kencing! Ya mo tidurlah… masa’ udah berkali-kali gue ajarin ga’ bisa-bisa. Mana IQ Einstein loe…”
Pak Zam masuk ke kelas dan pelajaran pun dimulai.
Sepulang sekolah Riyan berjingkrak-jingkrak kegirangan seperti ketiban mobil Avanza(itu sih sakit dodol!). ah intinya dia sangat gembira sekali nerima sebuah sms dari Vivi yang seumur hidup nggak pernah diterimanya. Seolah-olah dia melayang tinggi. Jauh sekali sampe kepalanya kebentur langit(baca : langit-langit kamar). Diperlihatkannya sms itu kepadaku sewaktu aku mengajaknya pulang bareng.
“Sorry ya Bro. gue mo ada kencan nih ama Vivi. nih undangannya” dia menyodorkan blackberrynya kepadaku sambil tersenyum sombong.

Ass…
Riyan, bisa nggak kita ketemuan nanti sepulang sekolah di kafe. Ada hal serius yang perlu gue omongin ke elo. nggak pake bawa temen loe segala. Hanya kita berdua. OK!

                “Wuih mesranya. Hanya kita berdua! Pake pelet jenis apa loe!”
            “sorry ya. Gue nggak mau pake yang gitu-gituan. Kalo untuk Vivi gue tulus berusaha sekuat tenaga dengan cara halal!”
            “huahaha…oke oke. Maaf kalo gitu Bro”
            “udah dulu ya. Gue duluan, takut telat nih…”
            “OK Bro. hati-hati di jalan ya kalo ada got jangan sengaja nyebur ntar Vivi kira loe anak got lagi.”
            “emang gue apaan! Dasar item!”
            “yah, biasanya kan kalo loe lagi frustasi kan sering nekat mo nyebur got. Hehehe…”kataku dalam hati sembari tersenyum lega karena si Riyan udah mulai dapet secercah harapan untuk cintanya.
            Vivi terlihat sudah duduk manis di kursi pojok sana.
            “e e e em… sendirian? Eh nggak maksudku eh gue eh saya…”kata Riyan terbata-bata salah tingkah. Vivi hanya tersenyum manis.
            “udahlah biasa aja. Kayak biasanya loe suka bicara ke gue.” Kata Vivi sembari menarik kursi mempersilahkan Riyan duduk. Riyan semakin mati gaya.
            “begini nih” Vivi menghela nafas sebentar.
“Sebenarnya kemarin aku mau ditunangin papaku sama seorang cowok yang nggak ku kenal dengan alasan cowok itu tajir dan punya masa depan yang cerah”
            Jduar,
            “ja ja jadi…”
            “dengar dulu. aku komplain ke papa dengan alasan aku udah punya pacar. Aku nggak mau ditunangin kayak gitu. Aku mau mendapatkan pendampingku sendiri. Aku nggak mau dijodoh-jodohin kayak anak zaman dulu. aku mau kamu melakukan sesuatu. Please…”
            “jadi… apa yang harus aku lakukan untuk kamu?” Riyan mulai mengikuti bahasa aku kamunya Vivi.
            “bukan untukku. Tapi untuk kita berdua. Untuk hubungan kita berdua. Untuk masa depan kita berdua. Lamarlah aku secepatnya sebelum cowok tajir itu melamarku.”
            Jduar,
            “ja ja jadi… selama ini…”
            “benar. Aku tahu kamu sangat mencintaiku. Kamu udah rela ngelakuin apa aja untukku. Maaf sebelumnya kalo aku sering nggak ngreken kamu. Tapi itu bukan berarti aku benci kamu kan? Soalnya kamu norak sih kalo ngrayu cewek. So’ cool lah atau apa aja deh. Aku pengin tuh kamu seperti apa adanya kamu sekarang ini. Cakep, cerdas dan sholeh lagi. tapi memang sebenarnya aku udah suka kamu dari dulu sejak pertama kenal sama kamu.” Vivi tersenyum manis, tersipu malu dengan kata-katanya sendiri.
            Riyan setengah nggak percaya dengan kata-kata yang baru diucapin Vivi tadi. Udah bertahun-tahun lamanya dia menunggu hal ini. Tetapi setelah benar-benar terjadi dia jadi gelisah bercampur gembira yang luar biasa.tentunya kegelisahan itu karena tiba-tiba dia harus melamar Vivi secepatnya. Secepatnya sebelum cowok tajir itu mendahuluinya. Dia menghela nafas sebentar kemudian dengan bahasa tubuhnya yang sigap dia berkata dengan nada penuh keyakinan.
            “oke. Insya Alloh aku siap. Aku akan melamarmu minggu depan.”
            “hah, minggu depan?! Itu sama saja kamu akan melamar gadis yang udah dilamar orang. Minggu depan cowok itu akan melamarku!”
            Jduar,
            Riyan hanya terbengong.
            “tapi aku butuh waktu untuk mempersiapkan semua itu dengan sempurna Vivi. Lagi pula kita kan masih SMA! Cobalah mengerti posisiku! Please dear…”
            “ya sudahlah.”
            Mendengar kata ya sudahlah dahinya mengeryit seperti dulu saat pertama kali dia mendengar lagunya Bondan Prakoso yang berjudul ya sudahlah. Kemudian sambil menggapai tangan Vivi yang keburu beranjak pergi dia berkata “oke. Aku akan melamarmu tiga hari ke depan setelah ini. Insya Alloh aku sanggup dan akan bertanggung jawab terhadap segala apa yang telah ku putuskan.”
            “nggak nyangka disamping ganteng ternyata kamu gentle juga.” Kata Vivi sambil tersenyum manis kemudian mencubit pipi Riyan. Oh sungguh indah sekali. Rasanya ingin melambung tinggi melayang ke angkasa. Tinggi sekali sampe terdampar di bulan hingga sekarat kehabisan nafas(yang terakhir bercanda).
            “bisakah besok aku main ke rumah kamu mau ngenalin calon mantunya ini ke papamu?” Tanya Riyan sebelum Vivi masuk ke rumahnya.
            “bisa sekali. Nanti aku atur. Aku mau masuk dulu ya…good bye my dear!” kata Vivi melambaikan tangannya dan sekali lagi, tubuhnya seakan terbang tinggi melesat di udara bersama pesawat terbang atau lebih tepatnya dia seperti sedang naik pesawat terbang.
            Mereka lama sekali ngobrol di telepon tadi malam. Canda tawa mengalir lancar. Bagi mereka yang penting sekarang lamaran dulu. Baru keduanya kalau sudah selesai kuliah bisa langsung menikah. Sungguh rencana yang tak terbanyangkan sama sekali oleh Riyan. Orang tuanya pun setengah tak percaya anaknya se nekat itu melamar anak gadis di waktu yang sangat belia. Tapi kalau dilihat dari segi ekonomi dan kemapanan hidup, Riyan sudah bisa dikategorikan eksmud alias eksekutif muda dengan distronya yang lumayan besar yang dibangun semenjak dia masuk SMA. Benar-benar pekerja keras.
            Keesokan harinya tepatnya sore hari setelah Riyan berdandan habis-habisan dia ke rumah Vivi. Disambutlah Riyan dengan ayahnya Vivi. Ayahnya melihat Riyan mulai dari ujung-sepatu sampai ujung rambut dengan tatapan datar.
“kamu ya yang katanya pacar Vivi yang mau melamar besok?”
“iya Om, eh Pa”
“pulang dulu sana rapikan kepribadianmu. Dan datang lagi besok lusa dengan membawa keluarga. Tapi ingat! Kamu harus meyakinkanku bahwa kamulah yang pantas untuk jadi menantuku.” Kata pak Andi kemudian menutup pintu dengan santai. Ya, Cuma itulah tanggapan yang dilontarkan papa Vivi kepada Riyan yang telah berjam-jam dandan habis-habisan Cuma untuknya. Cuma untuk nerima kata-kata ‘rapikan kepribadianmu’ belaka. Namun bukan namanya Riyan jika gampang menyerah. Dia akan berusaha menaklukan ego papa Vivi. Apapun yang terjadi.
Malam menjelang Riyan melamar Vivi, dia ingin mengajak kencan Vivi untuk yang pertama kalinya dalam seumur hidup. Namun hpnya dimatikan terus. Dia pun akhirnya terpaksa keluar sendirian, menikmati malam minggu yang indah sendiri.
Ting tong,
Suara bel rumah Vivi berbunyi. Dibukakannya oleh pembantu ternyata Reza. Cowok tajir tak dikenal yang tiba-tiba ingin melamar Vivi itu.
“Vivinya ada bi?”
“oh sebentar ya silahkan masuk.”
Vivi yang tahu kalau Reza datang bermaksud mengajak Vivi jalan, dia nyegir ke kamarnya. Sebenarnya dia ingin yang datang itu bukan Reza tapi Riyan. Lagi pula mana dia tahu Riyan mau ngajak jalan lha wong hpnya tadi habis kecemplung ke bak mandi. Kasihan sekali dia sekarang.
Mau tak mau untuk menuruti ego papanya akhirnya Vivi jalan sama Reza. Waktu Vivi jalan rasanya ada yang ngebuntutinnya mulai tadi. Setelah dilihat ke belakang ternyata tak ada.
“yuk kita ke mall sana aja ya…” pinta Reza sambil mobilnya melaju perlahan. Tetapi setelah agak lama dia nggak sampai-sampai di tempat tujuan. Kemudian mobil itu melewati tempat yang agak sepi. Ternyata mobilnya berhenti.
Ringkas cerita, Vivi berusaha melindungi dirinya dari serangan Reza yang mulai kalap. Tak lama kemudian pintu mobil di samping Reza dibuka dengan keras. Dilemparkannya Reza ke jalan. Dihajarnya habis-habisan hingga yang terakhir, diinjaknya pusat testosteron yang merubah dirinya jadi setan.
“sudah sudah nggak apa apa. Tenanglah sayang” dengan nafas yang tersengkal-sengkal dan rasa takut yang amat dalam Vivi memeluk Riyan yang ada di sampingnya.
“aku takut yan hh hh hh…”
Kemudian mereka berdua pulang dengan naik mobil Riyan yang sedari tadi mengintai gerak-gerik Vivi dan Reza. Riyan memang nggak sengaja tadi melihat Vivi yang baru dari mall masuk ke dalam mobil bersama seorang cowok. Akhirnya dibuntutilah kedua orang itu. Sepulangnya, Vivi menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada papanya. Papanya sangat bangga sekali pada Riyan.
“terima kasih ya nak. Kamu telah menyelamatkan putriku. Kamu sekarang lulus. Tapi Kamu tidak boleh melamarnya besok dan untuk selamanya” kata papa Vivi dengan santai.
Jduar, mulut Riyan menganga kaget. Apa maksudnya ini semua?!
“tapi kamu harus menikahinya minggu depan” kata papanya dengan seyum bahagia.

Tidak ada komentar: