Ketika mimpimu yang begitu indah tak pernah terwujud, ya
sudahlah…
Saat kau berlari mengejar anganmu dan tak pernah sampai,
ya sudahlah…
Waktu pertama
kali dia mendengar lagu itu dahinya mengkerut.
“kenapa harus
ya sudahlah?!” tanyanya kepadaku waktu istirahat di kantin.
“kan judulnya emang ya
sudahlah. Kalo syairnya bukan ya sudahlah tetapi jangan menyerah kan aneh… lagi pula kalo
syairnya jangan menyerah nggak pas tuh ama genjrengan
gitarnya.” Jawabku santai setengah bercanda tetapi dahinya tetap mengkerut. Dia
menatapku dengan keras seolah berbicara bahwa dia serius. Sangat sangat serius.
“atau mungkin
saja si pengarang lagu cuman pengin ngasih nasehat bahwa bagaimanapun keadaan
loe meski belum juga dapet ngeraih mimpi loe tenang aja. Karena gue kan siap membantu loe.
Gue kan selau
ada untuk loe.”
“kalo itu udah
tau gue maksudnya.”
“udah tau kok
masih nanya segala? Mau ngetes?”
“maksud gue
bukan itu yang gue maksud...”
“maksud loe?
Gue jadi bingung sendiri, apa sih yang sebenarnya kita bahas ini?”
“ah, udahlah
lupain aja. Kayak ngga’ pernah ngobrol aja ama gue. Gue kan orangnya emang sering nggak nyambung
kalo ngomong.”
“eh ada yang
dateng tuh…” ucapku berbisik kepada Riyan. Vivi masuk ke kantin. Riyan Cuma
tersenyum malu.
“ciyee… udah
samperin sana.
Aplikasikan tuh ide ke tiga puluh sembilan loe kemarin yang katanya jitu untuk
ngedeketinnya. Katanya loe pakar cinta.”
“udah deh
jangan ngeledek gitu. Udah tau temannya nih lagi berjuang mati-matian ngerebut
hatinya mulai semenjak masuk SMA sampe sekarang hampir lulus pun nggak
digubris.”
“kaciyaan…”
Riyan geram. Hampir saja mangkok mie yang sudah kosong itu dilempar ke arahku.
Aku memang
sangat kasihan pada Riyan. Cinta pertama dan seumur-umur belum pernah
ditanggapi oleh Vivi sungguh membuat Riyan hampir putus asa. Tapi saat itu pula
dia ngerasa harus bangkit dan tidak boleh menyerah. “jangan menyerah” emang
udah mulai kecil tertanam kuat dalam dirinya. Mengingat ekonomi keluarganya
yang melorot drastis setelah ayahnya meninggal. Dia harus berjuang keras
menghidupi ibunya yang sudah tua renta dan adik-adiknya yang masih kecil.
Hingga akhirnya saat ini dia berhasil menjadi pengusaha yang ternama dalam usia
anak SMA dengan distronya yang cukup gede. Untuk masalah asmara jangan ditanya. Temanku ini sangat
setia sekali meski cinta itu tak pernah digubris oleh Vivi. Seumur-umur tak
pernah ia berpaling ke cewek lain. Hanya Vivi. Dan hanya Vivi.
Aku sedikit
mulai nyadar kenapa tadi dia Tanya aneh-aneh tentang kenapa sih si pengarang
lagu ngeletaki kata ya sudahlah setelah kalimat yang berarti mimpi-mimpi kita
tak pernah terwujud adalah karena dia nggak mau putus asa untuk ngerebut hati
primadona kelas genetica(singkatan keren kelasku yang berarti generasi tiga
IPA) yang sejak tiga tahun tetep bungkam. Kata ya sudahlah baginya mungkin akan
mendidik para pendengar musik menjadi orang-orang yang gampang menyerah. Tapi
sebenarnya bukan itu kan
yang mau disampaikan pengarang lagu?(lho, kok Tanya gue? Emang gue Bondan
Prakoso? Ah jangan ngatain gue adiknya deh…gue kan jadi malu kalo cewek-cewek pada tau.
Nanti bisa-bisa semua pada nempel lagi kalo tau gue tuh adiknya bondan prakoso.
Tapi awas! fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan lho…).
Riyan
nyamperin dengan gaya
khasnya yang so’ cool. Tapi Vivi
tidak menggubrisnya sama sekali. Riyan yang ngomongnya ampe ludahnya muncrat-muncrat
pun di tanggapi Vivi hanya dengan kata-kata simpel seperti ya atau tidak dan
tetap tenang seperti nggak ada Riyan aja disana. Sesekali Vivi mengeryitkan
dahinya. Mungkin udah bosan kali ya dengan kehadiran Riyan disana. Tapi kali
ini dia tersenyum kepada Riyan. Oh my god.
Lihatlah senyum itu. Sangat manis sekali. Itu adalah senyum yang seumur-umur
belum pernah diberikan ke Riyan. Apalagi kali ini dia sedikit memperhatikan
obrolan Riyan. nggak seperti yang kaya dulu-dulu yang cuma menoleh ke Riyan
dengan tatapan datar kemudian berpaling ke arah lain. Entah itu ke buku yang
novel yang biasa dibawanya ke mana-mana sampai dia tamat membacanya kemudian
ganti novel lainnya atau mengalihkan pandangan ke gelas yang ada di depannya
tanpa memperhatikan Riyan sama sekali. Seolah-olah dia sendiri disitu, tak ada
Riyan untuknya.
Bel istirahat
telah berakhir berbunyi.
“wah, hebat banget
loe tu Bro. nglaksanain ide apalagi kok bisa ngebujuk si Vivi ngasih senyum
manis ke elo. Mo ngajak ngajak kencan apa gimana? Apa mo ngajak tun`ngan?”
ledekku sembari masuk kelas bersamanya.
“ngaco loe!
Gue juga nggak habis pikir kenapa tiba-tiba dia tersenyum manis ke gue. Tapi
kali ini gue bahagia banget.” Katanya dengan sedikit heran tapi kebahagiaan
yang luar biasa yang tersirat di raut wajahnya tak bisa disimpan. Dia terlihat
sangat bahagia sekali seperti baru kejatuhan buah duren di kepalanya(maksudnya?). Kebahagiaannya
merekah di wajahnya seperti buah duren
dibelah(maksudnya? Belah duren?
Apa di atas wajahnya mo ngebelah duren?
Ato wajahnya di belah seperti ngebelah buah duren?) maksudnya? Ah, maaf dah omongannya
ngaco aja kayak orang ngelindur.
“mungkin aja
dia mulai membuka hatinya untuk loe”
“Amiiin…”
kemudian seperti biasa, dia mengangkat tangannya sambil berkomat-kamit membaca
doa dengan cepat. Semua harapan kepada Vivi adalah hal sangat serius untuknya.
“Membaca Doa
apa loe?”
“ngedoain loe
supaya cepet pinter biar gue nggak repot-repot harus ngasih contekan ke loe
waktu ulangan! Dasar item! Ya berdoa seperti biasanya lah. Bismika Allohuma ahya wa bismika wa amuut.”
“uwahaha! Itu
sih doanya mo tidur. Apa loe habis ini mo bobo’ waktu pak Zam nerangin?!”
“ooo doa untuk
mo tidur ya…”
“bukan, tapi
mo kencing! Ya mo tidurlah… masa’ udah berkali-kali gue ajarin ga’ bisa-bisa.
Mana IQ Einstein loe…”
Pak Zam masuk
ke kelas dan pelajaran pun dimulai.
Sepulang
sekolah Riyan berjingkrak-jingkrak kegirangan seperti ketiban mobil Avanza(itu
sih sakit dodol!). ah intinya dia sangat gembira sekali nerima sebuah sms dari
Vivi yang seumur hidup nggak pernah diterimanya. Seolah-olah dia melayang
tinggi. Jauh sekali sampe kepalanya kebentur langit(baca : langit-langit
kamar). Diperlihatkannya sms itu kepadaku sewaktu aku mengajaknya pulang
bareng.
“Sorry ya Bro.
gue mo ada kencan nih ama Vivi. nih undangannya” dia menyodorkan blackberrynya kepadaku sambil tersenyum
sombong.
Ass…
Riyan, bisa nggak
kita ketemuan nanti sepulang sekolah di kafe. Ada hal serius yang perlu gue omongin ke elo.
nggak pake bawa temen loe segala. Hanya kita berdua. OK!
“Wuih
mesranya. Hanya kita berdua! Pake pelet jenis apa loe!”
“sorry
ya. Gue nggak mau pake yang gitu-gituan. Kalo untuk Vivi gue tulus berusaha
sekuat tenaga dengan cara halal!”
“huahaha…oke
oke. Maaf kalo gitu Bro”
“udah
dulu ya. Gue duluan, takut telat nih…”
“OK
Bro. hati-hati di jalan ya kalo ada got jangan sengaja nyebur ntar Vivi kira
loe anak got lagi.”
“emang
gue apaan! Dasar item!”
“yah,
biasanya kan kalo loe lagi frustasi kan sering nekat mo
nyebur got. Hehehe…”kataku dalam hati sembari tersenyum lega karena si Riyan
udah mulai dapet secercah harapan untuk cintanya.
Vivi
terlihat sudah duduk manis di kursi pojok sana.
“e
e e em… sendirian? Eh nggak maksudku eh gue eh saya…”kata Riyan terbata-bata
salah tingkah. Vivi hanya tersenyum manis.
“udahlah
biasa aja. Kayak biasanya loe suka bicara ke gue.” Kata Vivi sembari menarik
kursi mempersilahkan Riyan duduk. Riyan semakin mati gaya.
“begini
nih” Vivi menghela nafas sebentar.
“Sebenarnya
kemarin aku mau ditunangin papaku sama seorang cowok yang nggak ku kenal dengan
alasan cowok itu tajir dan punya masa depan yang cerah”
Jduar,
“ja
ja jadi…”
“dengar
dulu. aku komplain ke papa dengan alasan aku udah punya pacar. Aku nggak mau
ditunangin kayak gitu. Aku mau mendapatkan pendampingku sendiri. Aku nggak mau
dijodoh-jodohin kayak anak zaman dulu. aku mau kamu melakukan sesuatu. Please…”
“jadi…
apa yang harus aku lakukan untuk kamu?” Riyan mulai mengikuti bahasa aku
kamunya Vivi.
“bukan
untukku. Tapi untuk kita berdua. Untuk hubungan kita berdua. Untuk masa depan
kita berdua. Lamarlah aku secepatnya sebelum cowok tajir itu melamarku.”
Jduar,
“ja
ja jadi… selama ini…”
“benar.
Aku tahu kamu sangat mencintaiku. Kamu udah rela ngelakuin apa aja untukku.
Maaf sebelumnya kalo aku sering nggak ngreken
kamu. Tapi itu bukan berarti aku benci kamu kan? Soalnya kamu norak sih kalo ngrayu
cewek. So’ cool lah atau apa aja deh.
Aku pengin tuh kamu seperti apa adanya kamu sekarang ini. Cakep, cerdas dan
sholeh lagi. tapi memang sebenarnya aku udah suka kamu dari dulu sejak pertama
kenal sama kamu.” Vivi tersenyum manis, tersipu malu dengan kata-katanya
sendiri.
Riyan
setengah nggak percaya dengan kata-kata yang baru diucapin Vivi tadi. Udah
bertahun-tahun lamanya dia menunggu hal ini. Tetapi setelah benar-benar terjadi
dia jadi gelisah bercampur gembira yang luar biasa.tentunya kegelisahan itu
karena tiba-tiba dia harus melamar Vivi secepatnya. Secepatnya sebelum cowok
tajir itu mendahuluinya. Dia menghela nafas sebentar kemudian dengan bahasa
tubuhnya yang sigap dia berkata dengan nada penuh keyakinan.
“oke.
Insya Alloh aku siap. Aku akan melamarmu minggu depan.”
“hah,
minggu depan?! Itu sama saja kamu akan melamar gadis yang udah dilamar orang.
Minggu depan cowok itu akan melamarku!”
Jduar,
Riyan
hanya terbengong.
“tapi
aku butuh waktu untuk mempersiapkan semua itu dengan sempurna Vivi. Lagi pula
kita kan
masih SMA! Cobalah mengerti posisiku! Please dear…”
“ya
sudahlah.”
Mendengar
kata ya sudahlah dahinya mengeryit seperti dulu saat pertama kali dia mendengar
lagunya Bondan Prakoso yang berjudul ya sudahlah. Kemudian sambil menggapai
tangan Vivi yang keburu beranjak pergi dia berkata “oke. Aku akan melamarmu
tiga hari ke depan setelah ini. Insya Alloh aku sanggup dan akan bertanggung
jawab terhadap segala apa yang telah ku putuskan.”
“nggak
nyangka disamping ganteng ternyata kamu gentle juga.” Kata Vivi sambil
tersenyum manis kemudian mencubit pipi Riyan. Oh sungguh indah sekali. Rasanya
ingin melambung tinggi melayang ke angkasa. Tinggi sekali sampe terdampar di
bulan hingga sekarat kehabisan nafas(yang terakhir bercanda).
“bisakah
besok aku main ke rumah kamu mau ngenalin calon mantunya ini ke papamu?” Tanya
Riyan sebelum Vivi masuk ke rumahnya.
“bisa
sekali. Nanti aku atur. Aku mau masuk dulu ya…good bye my dear!” kata Vivi
melambaikan tangannya dan sekali lagi, tubuhnya seakan terbang tinggi melesat
di udara bersama pesawat terbang atau lebih tepatnya dia seperti sedang naik
pesawat terbang.
Mereka
lama sekali ngobrol di telepon tadi malam. Canda tawa mengalir lancar. Bagi
mereka yang penting sekarang lamaran dulu. Baru keduanya kalau sudah selesai kuliah
bisa langsung menikah. Sungguh rencana yang tak terbanyangkan sama sekali oleh
Riyan. Orang tuanya pun setengah tak percaya anaknya se nekat itu melamar anak
gadis di waktu yang sangat belia. Tapi kalau dilihat dari segi ekonomi dan
kemapanan hidup, Riyan sudah bisa dikategorikan eksmud alias eksekutif muda
dengan distronya yang lumayan besar yang dibangun semenjak dia masuk SMA.
Benar-benar pekerja keras.
Keesokan
harinya tepatnya sore hari setelah Riyan berdandan habis-habisan dia ke rumah
Vivi. Disambutlah Riyan dengan ayahnya Vivi. Ayahnya melihat Riyan mulai dari
ujung-sepatu sampai ujung rambut dengan tatapan datar.
“kamu ya yang
katanya pacar Vivi yang mau melamar besok?”
“iya Om, eh Pa”
“pulang dulu sana rapikan
kepribadianmu. Dan datang lagi besok lusa dengan membawa keluarga. Tapi ingat!
Kamu harus meyakinkanku bahwa kamulah yang pantas untuk jadi menantuku.” Kata
pak Andi kemudian menutup pintu dengan santai. Ya, Cuma itulah tanggapan yang
dilontarkan papa Vivi kepada Riyan yang telah berjam-jam dandan habis-habisan
Cuma untuknya. Cuma untuk nerima kata-kata ‘rapikan kepribadianmu’ belaka.
Namun bukan namanya Riyan jika gampang menyerah. Dia akan berusaha menaklukan
ego papa Vivi. Apapun yang terjadi.
Malam
menjelang Riyan melamar Vivi, dia ingin mengajak kencan Vivi untuk yang pertama
kalinya dalam seumur hidup. Namun hpnya dimatikan terus. Dia pun akhirnya
terpaksa keluar sendirian, menikmati malam minggu yang indah sendiri.
Ting tong,
Suara bel
rumah Vivi berbunyi. Dibukakannya oleh pembantu ternyata Reza. Cowok tajir tak
dikenal yang tiba-tiba ingin melamar Vivi itu.
“Vivinya ada
bi?”
“oh sebentar
ya silahkan masuk.”
Vivi yang tahu
kalau Reza datang bermaksud mengajak Vivi jalan, dia nyegir ke kamarnya.
Sebenarnya dia ingin yang datang itu bukan Reza tapi Riyan. Lagi pula mana dia
tahu Riyan mau ngajak jalan lha wong hpnya tadi habis kecemplung ke bak mandi. Kasihan sekali dia sekarang.
Mau tak mau
untuk menuruti ego papanya akhirnya Vivi jalan sama Reza. Waktu Vivi jalan
rasanya ada yang ngebuntutinnya mulai tadi. Setelah dilihat ke belakang
ternyata tak ada.
“yuk kita ke
mall sana aja
ya…” pinta Reza sambil mobilnya melaju perlahan. Tetapi setelah agak lama dia
nggak sampai-sampai di tempat tujuan. Kemudian mobil itu melewati tempat yang
agak sepi. Ternyata mobilnya berhenti.
Ringkas
cerita, Vivi berusaha melindungi dirinya dari serangan Reza yang mulai kalap.
Tak lama kemudian pintu mobil di samping Reza dibuka dengan keras.
Dilemparkannya Reza ke jalan. Dihajarnya habis-habisan hingga yang terakhir,
diinjaknya pusat testosteron yang merubah dirinya jadi setan.
“sudah sudah
nggak apa apa. Tenanglah sayang” dengan nafas yang tersengkal-sengkal dan rasa
takut yang amat dalam Vivi memeluk Riyan yang ada di sampingnya.
“aku takut yan
hh hh hh…”
Kemudian
mereka berdua pulang dengan naik mobil Riyan yang sedari tadi mengintai
gerak-gerik Vivi dan Reza. Riyan memang nggak sengaja tadi melihat Vivi yang
baru dari mall masuk ke dalam mobil bersama seorang cowok. Akhirnya
dibuntutilah kedua orang itu. Sepulangnya, Vivi menceritakan apa yang baru saja
terjadi kepada papanya. Papanya sangat bangga sekali pada Riyan.
“terima kasih
ya nak. Kamu telah menyelamatkan putriku. Kamu sekarang lulus. Tapi Kamu tidak
boleh melamarnya besok dan untuk selamanya” kata papa Vivi dengan santai.
Jduar, mulut
Riyan menganga kaget. Apa maksudnya ini semua?!
“tapi kamu
harus menikahinya minggu depan” kata papanya dengan seyum bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar