Senja meredup terkalahkan
oleh malam yang membentang luas.
“Vi, e… sebenarnya aku.
Aku sebenarnya…”
“udahlah nyante aja,
ngomong aja nggak usah pake gugup gitu.”
“sebenarnya…”
Dalam
sebuah cinta terdapat bahasa
Yang
mengalun indah mengisi jiwa
Hpnya berbunyi
“Halo, ya pa. apa?! ya
udah kalau begitu Vivi langsung ke sana.”
“ada apa Vi?”
“mamaku tiba-tiba
penyakitnya kambuh lagi, sekarang dia diantar ke rumah sakit. oh, tadi mau
ngomong apa?”
“oh nggak, nggak jadi.”
“tunggu dulu ya nanti aku
akan kembali lagi ke sini. Aku sayang kamu.”
Duarr!
Jantungku berdebar keras,
nafasku tersengkal-sengkal. Senyuman itu seperti merasuk lembut ke dalam tubuh
ini, namun perlahan aku mampu menguasainya.
“Aku menunggumu!” kataku
setengah teriak. Perlahan wajah cantik itu melebur dalam pekatnya senja di
halaman kampus.
ü
Wajah yang lembut menawan.
Tak ku sangka secepat ini aku jatuh cinta. Ku ingat masih dua bulan aku
mengenalnya. Fotonya ku ambil dari fb-nya. Habis aku malu jika harus terus
terang minta fotonya, nanti disangkanya ada apa-apa lagi. Tapi juga tak semudah
itu ku dapatkan harapanku. Dia mengatakan sayang padaku. Aku tidak habis pikir,
namun setelah ku pikir-pikir mungkin yang dia maksud dia sayang padaku adalah
sayang kategori sebagai sahabat, bukan cinta! ah, kenapa aku terlalu PD ya.
Wajahnya masih melekat
pekat dalam pikiran. Agak kuning langsat namun tampak lembut. Bibirnya yang
manis nan mungil agak kering namun juga tampak seperti kemerah-merahan.
Hidungnya kelihatan mancung tapi tidak juga sih karena dia bukan cewek
blesteran. Dia asli jawa. Nasab dari ayah ibunya pun keseluruhan jawa. Pipinya
yang juga agak kemerahan, lesung dan lembut. Matanya yang memancarkan Aura
tersendiri. Semua orang yang melihat matanya biasanya tersenyum karena matanya
bulat dan indah seperti mata kelinci yang tak berdosa. Penampilannya yang terkesan
sederhana tidak mengurangi keanggunan akan kecantikannya apalagi jilbab yang
dipakainya menambah Aura kebaikan yang selalu dipancarkannya. Tahi lalat mungil
di bawah bibir agak ke kiri sedikit adalah cirri-ciri yang tak pernah ku
lupakan. Meski semua memang tak ada yang abadi namun akhlak dan perjalanan
hidupnya akan memberi kesan mendalam kepada setiap orang yang mengenalnya.
Siang memberontak, melecut
perang antara terik panas menyengat dengan semangat berjuang. Aku masih duduk
di halaman kampus. Ku lukis wajahnya dalam bayang-bayang pikiran sementara
semua orang sibuk dengan kepentingannya sendiri. Ku lihat langit biru yang
mengkilap dari bawah pepohonan. Langit yang sangat cerah namun Vivi masih belum
datang juga. Sudah tiga hari dia tak ada kabar setelah obrolan santai waktu
senja kemarin. Tiap kali waktu selesai kuliah atau tak ada kuliah aku sering
duduk di sini. Di bangku kebun kampus yang kemarin ku duduki bersama Vivi.
Sedikitpun aku tidak mendapat kabarnya. Hpnya tidak aktif sementara kata teman-temannya
sudahtiga hari itu pula dia tidak kuliah. Nampaknya setelah dia pergi waktu itu
dia tidak pernah pulang. Mungkin masih di rumah sakit.
Kira-kira jam delapan
malam aku duduk di teras kos-kosan memandangi foto Vivi yang ku ambil dari
internet. Kegelapan malam di langit sana
seperti gelapnya pikiranku saat ini. Ku rasakan keputusasaan yang mendalam.
Meski bintang-bintang beserta bulan tetap menghiasai langit malam dan semua
lampu menyala seperti menumbuhkan kembali kehidupan yang telah mati termakan
malam namun dalam pikiranku malam tetaplah malam. Malam yang hanya bersama
kegelapan membutakan semangat untuk menjalani hidup dan meraih harapan. Aku
merasa sangat putus asa.
Ku coba menghibur diri
dengan jalan-jalan ke pusat kota
meski sendiri tanpa teman atau kekasih di malam minggu ini. Hujan cahaya
semakin deras tatkala aku tiba di alun-alun, sedikit mengurangi beban
pikiranku. Semua orang pada sibuk, umumnya sibuk dengan pasangannya
masing-masing. Mall yang megah terkesan agak sedikit angkuh. Ku masuki saja dia
seenaknya.
Bau yang seperti ini sudah
biasa ku rasakan jika masuk mall. Agak sedikit berbau kimia tetapi juga seperti
es krim yang biasa dijual di restoran. Jika ku bandingkan bau ini sangat
kontras dengan keharuman Vivi yang biasa ku rasakan jika berada di dekatnya,
keharuman yang alami dan sedikit elegan, maklum dia kan orang kaya. Aku jadi teringat dia
kembali. Tubuhnya yang agak tinggi namun tidak lebih tinggi dariku. Ku lihat
dari kejauhan, tepatnya di luar mall ada seseorang yang sepertinya ku kenal, ya
seoarang cewek yang sangat ku kenal sekali. Dia beranjak masuk ke dalam taksi.
Aku segera berlari agar bisa mendapatinya, namun sayang tidak semudah itu.
Aku bergegas mengambil
sepeda motor dan mamacu cepat mengejar taksi itu. Tiba di perempatan jalan
taksi itu lolos dari lampu merah sementara aku terjerat ke dalamnya. Aku hampir
kehilangan jejak tapi untungnya taksi itu berhenti di depan sebuah hotel. Aku
mendapati cewek itu.
“Vivi!”
Dia tidak menoleh.
“hei…”
“ada apa ya?”
“eh, maaf. Saya kira anda
teman saya. Maaf ya…”
Ternyata bukan Vivi.
Sudah satu tahun dia
menghilang entah kemana. Saat aku ke rumahnya dia ternyata sudah pindah bersama
keluarganya entah ke mana. tetangganya pun tidak ada yang tahu ke mana mereka
pindah.
Bila rindu ini masih milikmu
Ku hadirkan sebuah Tanya untukmu
Harus berapa lama aku menunggumu
Aku menunggumu
“Fajar!”
………
“Fajar!”
………
“Fajar!!”
“Vivi…”
“kemana saja kamu?
Bagaimana keadaanmu? Aku menunggumu sedari dulu… Aku… Ak… Ak…u…”
“Fajar, bangun. sekarang
waktunya makan dan minum obat dulu nak… bangun!”
Ku lihat di depanku sudah
ada Mama dengan membawa makanan. Sekarang aku dimana? Ah, ku ingat kembali.
Sekarang aku berada di rumah sakit. Sudah genap tiga tahun Vivi menghilang tak
ada kabar. Dia hanya dan selalu hadir dalam mmpi-mimpiku.
“sudahlah nak, jangan
ingat-ingat dia lagi.” Katanya dengan mematikan musik yang berbunyi dari hpku
sejak tadi.
“Pikirkanlah kesehatan dan
masa depan kamu. Besok kamu akan menjalani operasi. Jadi segarkanlah pikiranmu.
Jangan mikir Vivi melulu karena dia tak akan kembali.”
“Dia akan kembali Ma! Akan
kembali!”
Mama hanya bisa menghela
nafas. Dia mengelus-elus kepalaku.
“benar, dia akan kembali!”
dia meyakinkaku dengan menitikan air mata.
ü
“Vivi, kenapa kamu tidak
pernah kembali… apa salahku? Apa salahku?!”
Dia meletakkan telunjuk
jarinya yang lentik ke depan bibirku.
“diamlah. Ikut aku!”
Vivi yang memakai pakaian putih
berjalan seolah ingin menunjukkan kepadaku suatu tempat untukku. Tiba-tiba ku
rasakan secercah cahaya menyilaukan mata kemudian ku lihat sebuah tempat yang
di padati cahaya putih. Perlahan cahaya itu meredup hingga terlihatlah
pemandangan yang sangat indah di sekitarku. Seperti taman bunga pagi hari di
Negara jepang yang sedang bersemi. Vivi tersenyum manis melihatku bahagia
kemudian dia beranjak pergi. Aku berlari menyusulnya namun cahaya menyilaukan
menghalangiku. Aku tak rasakan diriku ada. Kemudian akhirnya nafas terakhir ku
hembuskan dalam ruang operasi itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar