Minggu, 30 Januari 2011

Aku menunggumu



Senja meredup terkalahkan oleh malam yang membentang luas.
“Vi, e… sebenarnya aku. Aku sebenarnya…”
“udahlah nyante aja, ngomong aja nggak usah pake gugup gitu.”
“sebenarnya…”

Dalam sebuah cinta terdapat bahasa
Yang mengalun indah mengisi jiwa

Hpnya berbunyi
“Halo, ya pa. apa?! ya udah kalau begitu Vivi langsung ke sana.”
“ada apa Vi?”
“mamaku tiba-tiba penyakitnya kambuh lagi, sekarang dia diantar ke rumah sakit. oh, tadi mau ngomong apa?”
“oh nggak, nggak jadi.”
“tunggu dulu ya nanti aku akan kembali lagi ke sini. Aku sayang kamu.”
Duarr!
Jantungku berdebar keras, nafasku tersengkal-sengkal. Senyuman itu seperti merasuk lembut ke dalam tubuh ini, namun perlahan aku mampu menguasainya.
“Aku menunggumu!” kataku setengah teriak. Perlahan wajah cantik itu melebur dalam pekatnya senja di halaman kampus.



ü   



Wajah yang lembut menawan. Tak ku sangka secepat ini aku jatuh cinta. Ku ingat masih dua bulan aku mengenalnya. Fotonya ku ambil dari fb-nya. Habis aku malu jika harus terus terang minta fotonya, nanti disangkanya ada apa-apa lagi. Tapi juga tak semudah itu ku dapatkan harapanku. Dia mengatakan sayang padaku. Aku tidak habis pikir, namun setelah ku pikir-pikir mungkin yang dia maksud dia sayang padaku adalah sayang kategori sebagai sahabat, bukan cinta! ah, kenapa aku terlalu PD ya.

Wajahnya masih melekat pekat dalam pikiran. Agak kuning langsat namun tampak lembut. Bibirnya yang manis nan mungil agak kering namun juga tampak seperti kemerah-merahan. Hidungnya kelihatan mancung tapi tidak juga sih karena dia bukan cewek blesteran. Dia asli jawa. Nasab dari ayah ibunya pun keseluruhan jawa. Pipinya yang juga agak kemerahan, lesung dan lembut. Matanya yang memancarkan Aura tersendiri. Semua orang yang melihat matanya biasanya tersenyum karena matanya bulat dan indah seperti mata kelinci yang tak berdosa. Penampilannya yang terkesan sederhana tidak mengurangi keanggunan akan kecantikannya apalagi jilbab yang dipakainya menambah Aura kebaikan yang selalu dipancarkannya. Tahi lalat mungil di bawah bibir agak ke kiri sedikit adalah cirri-ciri yang tak pernah ku lupakan. Meski semua memang tak ada yang abadi namun akhlak dan perjalanan hidupnya akan memberi kesan mendalam kepada setiap orang yang mengenalnya.
Siang memberontak, melecut perang antara terik panas menyengat dengan semangat berjuang. Aku masih duduk di halaman kampus. Ku lukis wajahnya dalam bayang-bayang pikiran sementara semua orang sibuk dengan kepentingannya sendiri. Ku lihat langit biru yang mengkilap dari bawah pepohonan. Langit yang sangat cerah namun Vivi masih belum datang juga. Sudah tiga hari dia tak ada kabar setelah obrolan santai waktu senja kemarin. Tiap kali waktu selesai kuliah atau tak ada kuliah aku sering duduk di sini. Di bangku kebun kampus yang kemarin ku duduki bersama Vivi. Sedikitpun aku tidak mendapat kabarnya. Hpnya tidak aktif sementara kata teman-temannya sudahtiga hari itu pula dia tidak kuliah. Nampaknya setelah dia pergi waktu itu dia tidak pernah pulang. Mungkin masih di rumah sakit.
Kira-kira jam delapan malam aku duduk di teras kos-kosan memandangi foto Vivi yang ku ambil dari internet. Kegelapan malam di langit sana seperti gelapnya pikiranku saat ini. Ku rasakan keputusasaan yang mendalam. Meski bintang-bintang beserta bulan tetap menghiasai langit malam dan semua lampu menyala seperti menumbuhkan kembali kehidupan yang telah mati termakan malam namun dalam pikiranku malam tetaplah malam. Malam yang hanya bersama kegelapan membutakan semangat untuk menjalani hidup dan meraih harapan. Aku merasa sangat putus asa.
Ku coba menghibur diri dengan jalan-jalan ke pusat kota meski sendiri tanpa teman atau kekasih di malam minggu ini. Hujan cahaya semakin deras tatkala aku tiba di alun-alun, sedikit mengurangi beban pikiranku. Semua orang pada sibuk, umumnya sibuk dengan pasangannya masing-masing. Mall yang megah terkesan agak sedikit angkuh. Ku masuki saja dia seenaknya.
Bau yang seperti ini sudah biasa ku rasakan jika masuk mall. Agak sedikit berbau kimia tetapi juga seperti es krim yang biasa dijual di restoran. Jika ku bandingkan bau ini sangat kontras dengan keharuman Vivi yang biasa ku rasakan jika berada di dekatnya, keharuman yang alami dan sedikit elegan, maklum dia kan orang kaya. Aku jadi teringat dia kembali. Tubuhnya yang agak tinggi namun tidak lebih tinggi dariku. Ku lihat dari kejauhan, tepatnya di luar mall ada seseorang yang sepertinya ku kenal, ya seoarang cewek yang sangat ku kenal sekali. Dia beranjak masuk ke dalam taksi. Aku segera berlari agar bisa mendapatinya, namun sayang tidak semudah itu.
Aku bergegas mengambil sepeda motor dan mamacu cepat mengejar taksi itu. Tiba di perempatan jalan taksi itu lolos dari lampu merah sementara aku terjerat ke dalamnya. Aku hampir kehilangan jejak tapi untungnya taksi itu berhenti di depan sebuah hotel. Aku mendapati cewek itu.
“Vivi!”
Dia tidak menoleh.
“hei…”
“ada apa ya?”
“eh, maaf. Saya kira anda teman saya. Maaf ya…”
Ternyata bukan Vivi.

Sudah satu tahun dia menghilang entah kemana. Saat aku ke rumahnya dia ternyata sudah pindah bersama keluarganya entah ke mana. tetangganya pun tidak ada yang tahu ke mana mereka pindah.

Bila rindu ini masih milikmu
Ku hadirkan sebuah Tanya untukmu
Harus berapa lama aku menunggumu
Aku menunggumu

“Fajar!”
 ………
“Fajar!”
 ………
“Fajar!!”
“Vivi…”
“kemana saja kamu? Bagaimana keadaanmu? Aku menunggumu sedari dulu… Aku… Ak… Ak…u…”
“Fajar, bangun. sekarang waktunya makan dan minum obat dulu nak… bangun!”
Ku lihat di depanku sudah ada Mama dengan membawa makanan. Sekarang aku dimana? Ah, ku ingat kembali. Sekarang aku berada di rumah sakit. Sudah genap tiga tahun Vivi menghilang tak ada kabar. Dia hanya dan selalu hadir dalam mmpi-mimpiku.
“sudahlah nak, jangan ingat-ingat dia lagi.” Katanya dengan mematikan musik yang berbunyi dari hpku sejak tadi.
“Pikirkanlah kesehatan dan masa depan kamu. Besok kamu akan menjalani operasi. Jadi segarkanlah pikiranmu. Jangan mikir Vivi melulu karena dia tak akan kembali.”
“Dia akan kembali Ma! Akan kembali!”
Mama hanya bisa menghela nafas. Dia mengelus-elus kepalaku.
“benar, dia akan kembali!” dia meyakinkaku dengan menitikan air mata.



ü   



“Vivi, kenapa kamu tidak pernah kembali… apa salahku? Apa salahku?!”
Dia meletakkan telunjuk jarinya yang lentik ke depan bibirku.
“diamlah. Ikut aku!”
Vivi yang memakai pakaian putih berjalan seolah ingin menunjukkan kepadaku suatu tempat untukku. Tiba-tiba ku rasakan secercah cahaya menyilaukan mata kemudian ku lihat sebuah tempat yang di padati cahaya putih. Perlahan cahaya itu meredup hingga terlihatlah pemandangan yang sangat indah di sekitarku. Seperti taman bunga pagi hari di Negara jepang yang sedang bersemi. Vivi tersenyum manis melihatku bahagia kemudian dia beranjak pergi. Aku berlari menyusulnya namun cahaya menyilaukan menghalangiku. Aku tak rasakan diriku ada. Kemudian akhirnya nafas terakhir ku hembuskan dalam ruang operasi itu.

Tidak ada komentar: