Kamis, 14 Oktober 2010

Dunia baru




Ah, apalah artinya sebuah pantai di pagi hari dengan langit biru nan cerah kalau hati kita sedih, sunyi sepi. Apalah artinya hujan mengguyur seluruh badan dengan petir ganas bertabrakan di atas ubun-ubun kepala kalau hati kita senang, ceria dan gembira.
Ya, sedikit yang akan saya ceritakan ini adalah perjuangan seorang pemuda yang dihimpit berpuluh macam batu masalah sedang berusaha membangun dunia baru. Dunia yang hanya dapat diinjak olehnya, di mana orang-orang tak pernah tahu. Dia mencoba membangun dunia baru dalam pikirannya. Dunia mungil yang terpojok di sela-sela sel otaknya itu adalah dunia yang amat luas di mana pagi selalu hadir dengan cahaya mentari yang cerah, langit biru nan anggun beserta taman langit yang terbangun di atas awan putih tipis agak sedikit pucat sih tapi juga bisa dikatakan cerah.
Di atas sana, jauh sekali. Para lembayung sedang berperang dengan cambuk petirnya menyebabkan suara gemuruh berjejal-jejal memadati gendang telinga. Sementara darah jernih yang tak lain adalah air itu sendiri menerobos jejaring udara kosong di lapisan stratosfer memenuhi panggilan gravitasi bumi, menggeliat menelusuri sela-sela udara lembap dan akhirnya jatuh ke tanah, membanjiri jalan raya di Jakarta sana.
Aku tak tahu aku harus berbuat apa dan kemana sekarang. Sementara hujan belum reda aku berteduh di teras rumah orang. Inilah hidupku sekarang. Berlantai bumi beratap langit dan berjalan tak ada ujung. Ku ingat sebulan yang lalu hidupku tak menderita seperti ini. Ku rasa saat itu, hidupku akan berjalan seperti biasanya. Aku sibuk dengan sekolah dan laptopku. Saat itu aku merasa benefit, benefic, bonafide. Kalau di ibaratkan waktu itu sekolah adalah kerajaanku sedangkan dunia cyber adalah duniaku sendiri karena yang lain pada ngontrak (maksudnya??). aku sangat beruntung waktu itu. Aku adalah siswa paling cerdas, cowok paling tampan, kaya dan keren di sekolah. Semua cewek tergila-gila padaku. Di dunia maya aku adalah seorang internet marketer kelas dunia. Namun bulan februari yang baru terlalui telah menghancurkan dan meluluhlantakkan hidupku. Tapi ku rasa bukan bulan februari sich melainkan memang semua ini adalah takdir tuhan yang telah direncanakan oleh tuhan dan aku harus bisa menghadapi semua cobaan ini.
Rasanya waktu berjalan secepat penggaris bergetar yang digetarkan oleh tangan adikku di pinggir meja belajarnya. Permulaan februari tejadi gempa 7,5 skala ritcher di Jakarta yang meluluh lantakkan rumah beserta sekolahku. Tapi Alhamdulillah, untungnya aku dan ayahku selamat meski ibu dan adikku tak tertolong. Kami pun pindah ke rumah kakek di malang.
Benar, waktu terasa angat cepat sekali berputar di sampingku. Ayah kenal dengan seorang janda kembang yang menjadi atasannya dan hanya dalam dua minggu pendekatan mereka sekarang telah menjadi sepasang suami istri yang berbahagia.
Janda itu kaya sekali. Dia punya banyak perusahaan besar yang bercabang-cabang. Bu Shizuka, begitulah biasanya dia dipanggil ekan kerjanya. Seorang ibu tiri dari jepang bermata sipit.
Kehadiran ibu tiri bukan malah membuatku bahagia. Yah, seperti ibu tiri di cerita-cerita dongeng istanasentris yang biasa ku bacakan untuk adikku sebelum tidur begitulah. Ibu tiri yang kejam sementara ayah terus memihak kepadanya dari pada aku yang tak bersalah. Aku seperti dijadikan budak berbulu serigala menurut mereka yang selalu membantah jika disuruh ini itu. Maka ku putuskan untuk pergi dari kehidupan mereka. Pergi jauh sekali dan tak akan kembali untuk selamanya.
Keluargaku yang masih ada hanya tinggal seorang kakek tua belaka. Setelah ayah menikah kami tinggal di Jogjakarta. Sekarang aku akan kembali ke rumah kakek yang hanya seluas 5´5 meter di malang itu meski jauh.
Rasanya seperti batu masalah tidak puas menghantamkan cobaan kepadaku. Di tengah perjalanan semua barangku termasuk laptop yang menjadi satu-satunya senjataku mencari uang. dirampok segerombolan penjahat tengik, yang tersisa tinggal uang dalam kaos kakiku, dua puluh ribu rupiah.
Aku berfikir bahwa aku harus bisa bertahan. Aku pergi ke warnet berharap ada beberapa merchant yang mengirim cek lewat e-mail atas jasaku menjualkan barang mereka secara online. Tidak tahunya tiba-tiba mereka melayangkan surat pengeluaranku sebagai broker mereka yang di attach dalam e-mail. Tidak jelas apa alasannya yang jelas aku sebagai affiliate dari Indonesia dianggap fraud oleh mereka. Semua merchant mulai dari jerman sampai amerika menudingku curang dalam menjalankan bisnis online.
Sekali lagi, cobaan memukul mundur ketentraman hidupku.
Hujan masih juga belum reda. Tubuhku menggigil kedinginan, perutku keroncongan sementara hartaku yang tersisa Cuma uang lima ribu. Aku masih berdiri memojok di teras rumah orang dengan santai.
Namun dengan semua keadaanku yang kacau ini aku bersyukur bahwa aku masih merasakan ni’matnya bernafas dan cinta walau cinta itu hanya ada dalam angan-angan.
Dia adalah cewek terindah yang pernah ku temui sepanjang hidup. Pertama kali aku bertemu dengannya sewaktu aku ikut olimpiade kimia se jawa yang diselenggarakan di sebuah universitas terkemuka di Surabaya. Ku ingat wajah cantiknya yang begitu menawan. Aku hanya sempat berkenalan dengannya. Dia tampak berbeda sekali dengan cewek-cewek lain bahkan yang paling cantik sekalipun di sekolah. Mungkin karena dia memakai jilbab dan perilakunya yang baik, soleh dan bersahabat dengan semua orang.
Setelah olimpiade itu aku tak pernah bertemu lagi dengannya. Waktu kenalan aku minta alamatnya nggak di kasih, nomor HP apalagi. Yang ku tahu Cuma namanya Aisha sekolah di SMA negeri 2 ngawi. Namun saat kami kenalan nampaknya dia bahagia sekali kenal denganku. Ku ingat sekali kata yang terkhir diucapkan dari bibir manisnya waktu mau pulang ke kotanya. ‘aku akan menunggumu…’ kemudian aku berjanji dengan percaya diri bahwa aku akan mendapatkan dirinya.
Aku tidak tahu sekarang ini aku sudah berada di mana. Saking lelahnya aku sampai tertidur  sambil berdiri di pojok teras.
Dalam lelap aku bertemu dengan Aisha. Wajahnya masih melekat pekat dalam pikiran. Agak kuning langsat namun tampak lembut. Bibirnya yang manis nan mungil agak kering namun juga tampak seperti kemerah-merahan. Hidungnya kelihatan mancung tapi tidak juga sih karena dia bukan cewek blesteran. Dia asli jawa. Nasab dari ayah ibunya pun keseluruhan jawa. Pipinya yang juga agak kemerahan, lesung dan lembut. Matanya yang memancarkan Aura tersendiri. Semua orang yang melihat matanya biasanya tersenyum karena matanya bulat dan indah seperti mata kelinci yang tak berdosa. Penampilannya yang terkesan sederhana tidak mengurangi keanggunan akan kecantikannya apalagi jilbab yang dipakainya menambah Aura kebaikan yang selalu dipancarkannya. Tahi lalat mungil di bawah bibir agak ke kiri sedikit adalah ciri-ciri yang tak pernah ku lupakan. Meski semua memang tak ada yang abadi namun akhlak dan perjalanan hidupnya akan memberi kesan mendalam kepada setiap orang yang mengenalnya.
 Dia keluar dari sebuah pintu membawakan jaket untukku yang menggigil kedinginan. Dengan senyumnya yang manis dia mau mengatakan sesuatu.
Clerk,
Suara pintu terbuka membangunkan mimpi indahku. Hujan telah reda. Dari dalam rumah muncul seorang wanita cantik yang umurnya kira-kira sebaya denganku. Dengan senyum manis di bibirnya dia membawakan jaket untukku.
“Aisha!”
“Alhamdulillah, akhirnya kamu menepati janji.”
            Dunia baru ku temukan kembali.

Tidak ada komentar: