Ah, apalah artinya sebuah
pantai di pagi hari dengan langit biru nan cerah kalau hati kita sedih, sunyi
sepi. Apalah artinya hujan mengguyur seluruh badan dengan petir ganas
bertabrakan di atas ubun-ubun kepala kalau hati kita senang, ceria dan gembira.
Ya, sedikit yang akan saya
ceritakan ini adalah perjuangan seorang pemuda yang dihimpit berpuluh macam
batu masalah sedang berusaha membangun dunia baru. Dunia yang hanya dapat
diinjak olehnya, di mana orang-orang tak pernah tahu. Dia mencoba membangun
dunia baru dalam pikirannya. Dunia mungil yang terpojok di sela-sela sel
otaknya itu adalah dunia yang amat luas di mana pagi selalu hadir dengan cahaya
mentari yang cerah, langit biru nan anggun beserta taman langit yang terbangun
di atas awan putih tipis agak sedikit pucat sih tapi juga bisa dikatakan cerah.
Di atas sana, jauh sekali. Para
lembayung sedang berperang dengan cambuk petirnya menyebabkan suara gemuruh
berjejal-jejal memadati gendang telinga. Sementara darah jernih yang tak lain
adalah air itu sendiri menerobos jejaring udara kosong di lapisan stratosfer
memenuhi panggilan gravitasi bumi, menggeliat menelusuri sela-sela udara lembap
dan akhirnya jatuh ke tanah, membanjiri jalan raya di Jakarta
sana.
Aku tak tahu aku harus
berbuat apa dan kemana sekarang. Sementara hujan belum reda aku berteduh di
teras rumah orang. Inilah hidupku sekarang. Berlantai bumi beratap langit dan
berjalan tak ada ujung. Ku ingat sebulan yang lalu hidupku tak menderita
seperti ini. Ku rasa saat itu, hidupku akan berjalan seperti biasanya. Aku
sibuk dengan sekolah dan laptopku. Saat itu aku merasa benefit, benefic,
bonafide. Kalau di ibaratkan waktu itu sekolah adalah kerajaanku sedangkan
dunia cyber adalah duniaku sendiri
karena yang lain pada ngontrak (maksudnya??). aku sangat beruntung waktu itu.
Aku adalah siswa paling cerdas, cowok paling tampan, kaya dan keren di sekolah.
Semua cewek tergila-gila padaku. Di dunia maya aku adalah seorang internet
marketer kelas dunia. Namun bulan februari yang baru terlalui telah
menghancurkan dan meluluhlantakkan hidupku. Tapi ku rasa bukan bulan februari
sich melainkan memang semua ini adalah takdir tuhan yang telah direncanakan
oleh tuhan dan aku harus bisa menghadapi semua cobaan ini.
Rasanya waktu berjalan
secepat penggaris bergetar yang digetarkan oleh tangan adikku di pinggir meja
belajarnya. Permulaan februari tejadi gempa 7,5 skala ritcher di Jakarta
yang meluluh lantakkan rumah beserta sekolahku. Tapi Alhamdulillah, untungnya
aku dan ayahku selamat meski ibu dan adikku tak tertolong. Kami pun pindah ke
rumah kakek di malang.
Benar, waktu terasa angat
cepat sekali berputar di sampingku. Ayah kenal dengan seorang janda kembang
yang menjadi atasannya dan hanya dalam dua minggu pendekatan mereka sekarang
telah menjadi sepasang suami istri yang berbahagia.
Janda itu kaya sekali. Dia
punya banyak perusahaan besar yang bercabang-cabang. Bu Shizuka, begitulah
biasanya dia dipanggil ekan kerjanya. Seorang ibu tiri dari jepang bermata
sipit.
Kehadiran ibu tiri bukan
malah membuatku bahagia. Yah, seperti ibu tiri di cerita-cerita dongeng
istanasentris yang biasa ku bacakan untuk adikku sebelum tidur begitulah. Ibu
tiri yang kejam sementara ayah terus memihak kepadanya dari pada aku yang tak
bersalah. Aku seperti dijadikan budak berbulu serigala menurut mereka yang
selalu membantah jika disuruh ini itu. Maka ku putuskan untuk pergi dari
kehidupan mereka. Pergi jauh sekali dan tak akan kembali untuk selamanya.
Keluargaku yang masih ada
hanya tinggal seorang kakek tua belaka. Setelah ayah menikah kami tinggal di Jogjakarta. Sekarang aku
akan kembali ke rumah kakek yang hanya seluas 5´5 meter di malang itu meski jauh.
Rasanya seperti batu
masalah tidak puas menghantamkan cobaan kepadaku. Di tengah perjalanan semua
barangku termasuk laptop yang menjadi satu-satunya senjataku mencari uang.
dirampok segerombolan penjahat tengik, yang tersisa tinggal uang dalam kaos
kakiku, dua puluh ribu rupiah.
Aku berfikir bahwa aku
harus bisa bertahan. Aku pergi ke warnet berharap ada beberapa merchant yang mengirim cek lewat e-mail
atas jasaku menjualkan barang mereka secara online. Tidak tahunya tiba-tiba
mereka melayangkan surat
pengeluaranku sebagai broker mereka yang di attach
dalam e-mail. Tidak jelas apa alasannya yang jelas aku sebagai affiliate dari Indonesia dianggap fraud oleh mereka. Semua merchant mulai dari jerman sampai
amerika menudingku curang dalam menjalankan bisnis online.
Sekali lagi, cobaan
memukul mundur ketentraman hidupku.
Hujan masih juga belum
reda. Tubuhku menggigil kedinginan, perutku keroncongan sementara hartaku yang
tersisa Cuma uang lima
ribu. Aku masih berdiri memojok di teras rumah orang dengan santai.
Namun dengan semua
keadaanku yang kacau ini aku bersyukur bahwa aku masih merasakan ni’matnya
bernafas dan cinta walau cinta itu hanya ada dalam angan-angan.
Dia adalah cewek terindah
yang pernah ku temui sepanjang hidup. Pertama kali aku bertemu dengannya
sewaktu aku ikut olimpiade kimia se jawa yang diselenggarakan di sebuah
universitas terkemuka di Surabaya.
Ku ingat wajah cantiknya yang begitu menawan. Aku hanya sempat berkenalan
dengannya. Dia tampak berbeda sekali dengan cewek-cewek lain bahkan yang paling
cantik sekalipun di sekolah. Mungkin karena dia memakai jilbab dan perilakunya
yang baik, soleh dan bersahabat dengan semua orang.
Setelah olimpiade itu aku
tak pernah bertemu lagi dengannya. Waktu kenalan aku minta alamatnya nggak di
kasih, nomor HP apalagi. Yang ku tahu Cuma namanya Aisha sekolah di SMA negeri
2 ngawi. Namun saat kami kenalan nampaknya dia bahagia sekali kenal denganku.
Ku ingat sekali kata yang terkhir diucapkan dari bibir manisnya waktu mau
pulang ke kotanya. ‘aku akan menunggumu…’ kemudian aku berjanji dengan percaya
diri bahwa aku akan mendapatkan dirinya.
Aku tidak tahu sekarang
ini aku sudah berada di mana. Saking lelahnya aku sampai tertidur sambil berdiri di pojok teras.
Dalam lelap aku bertemu
dengan Aisha. Wajahnya masih melekat pekat dalam pikiran. Agak kuning langsat
namun tampak lembut. Bibirnya yang manis nan mungil agak kering namun juga
tampak seperti kemerah-merahan. Hidungnya kelihatan mancung tapi tidak juga sih
karena dia bukan cewek blesteran. Dia asli jawa. Nasab dari ayah ibunya pun
keseluruhan jawa. Pipinya yang juga agak kemerahan, lesung dan lembut. Matanya
yang memancarkan Aura tersendiri. Semua orang yang melihat matanya biasanya tersenyum
karena matanya bulat dan indah seperti mata kelinci yang tak berdosa.
Penampilannya yang terkesan sederhana tidak mengurangi keanggunan akan
kecantikannya apalagi jilbab yang dipakainya menambah Aura kebaikan yang selalu
dipancarkannya. Tahi lalat mungil di bawah bibir agak ke kiri sedikit adalah
ciri-ciri yang tak pernah ku lupakan. Meski semua memang tak ada yang abadi
namun akhlak dan perjalanan hidupnya akan memberi kesan mendalam kepada setiap
orang yang mengenalnya.
Dia keluar dari sebuah pintu membawakan jaket
untukku yang menggigil kedinginan. Dengan senyumnya yang manis dia mau
mengatakan sesuatu.
Clerk,
Suara pintu terbuka
membangunkan mimpi indahku. Hujan telah reda. Dari dalam rumah muncul seorang
wanita cantik yang umurnya kira-kira sebaya denganku. Dengan senyum manis di
bibirnya dia membawakan jaket untukku.
“Aisha!”
“Alhamdulillah, akhirnya
kamu menepati janji.”
Dunia
baru ku temukan kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar