Senja berbayang, beresonansi
dengan hidup yang nilainya tak dapat ditentukan seperti entalpi dalam kimia. kira-kira
sepuluh tahun yang lalu. setengah lima
sore saat gerimis habis hujan menjemput. dalam sebuah rumah reot aku beranjak
kelas 2 MI. ibukku sedang masak nasi aking yang biasa menjadi makanan bebek. kami
sekeluarga saat itu sangat miskin.
“masak
apa bu’?” “seperti biasanya le, masak nasi aking. ibu sedih karena persediaan
nasi kering tinggal yang ibu masak ini.entah kita besok makan apa.tapi jangan
kuatir mbah pasti akan ke kota
untuk menarik becak dan insya Alloh besok kita masih bisa makan kok”ujar ibu
dengan senyum mengembang.
Kemudian integral
kehidupan menuliskan rumusnya dalam hamparan cakrawala yang menjadi saksi bisu
kehidupan. secercah cahaya dari lampu
dop atau lampu bohlam memberi isyarat sebuah alur takdir. sebuah mobil
datang ke rumah kami...
Kelas
3 SMP aku kembali mengalami masa-masa sulit. saat itu aku tinggal di sebuah
koperasi yang hampir bangkrut di kota.
sebenarnya aku di sana
bekerja sambil sekolah namun saat aku kelas 3 yang menuntutku agar harus fokus
ke UN agar dapat lulus aku malah
mendapat masalah,meski masalah klasik.ya,masalah ekonomi. SPPku menuggak 1
semester dan jika aku tidak bisa membayar besok senin maka aku tidak boleh
mengikuti ujian nasional bahkan aku akan dikeluarkan!
Saat
itu hari kamis. aku bolos untuk menemui ibuku di tempat kerjanya.sebuah warung
yang cukup mewah kala itu.aku mengadu padanya tentang masalahku.dia tidak bisa
berbuat apa-apa karena majikannya sangat pelit.dia hanya bisa memberiku uang
dua puluh ribu hasil pinjaman pada temannya.”mau gimana lagi le..ibu tidak bisa
mencari uang sebesar itu.kalo toh kamu dikeluarkan ya pulang saja ke kampung.berdoa
saja semoga ada jalan keluar dan kamu bisa neruskan dan bisa lulus.”
Aku
kembali ke koperasi.aku harus bisa! Aku tidak boleh menyerah!
“minta
bantuan saja sama orang-orang koperasi. mungkin mereka bisa membantumu”ucap
penjual nasi goreng depan koperasi.
Kemudian
hari sabtu aku bolos lagi bersama seorang temanku.kali ini aku ke
alun-alun.catatan nomor telepon beberapa orang yang kukenal adalah modalku.aku
menuju telepon umum.aku merogoh saku.ada lima
buah uang logam seratus ratus rupiah.aku memasukkan satu.nomor telepon pertama
yang ku lihat adalah pak rozak.
“halo,assalamu’alaikum”
.........
“jika kita integral
parsialkan maka kita akan menyelesaikan dengan dua rumusan.rumusan pertama
yaitu..”kata pak yitno menerangkan di depan kelas.
“hey dan,” bisik keisya di
sampingku yang tiba-tiba memegang mesra tanganku saat jam pelajaran
berlangsung.diam-diam dia memberikan bungkusan plastic kecil yang didalamnya
obat berbentuk serbuk.
“maaf key aku nggak pake
ini”
“ayolah,nanti kamu akan
tau rasanya seperti melayang-layang di atas awan.”
Dasar kabut dioksin
sialan! Nggak nyangka cewek secantik ini jadi pengedar narkoba.amit-amit dech
aku jadi pacarnya,sudah mati aku sekarang Cuma karena narkoba!Aku langsung ijin
pamit ke pak yitno untuk kebelakang.
Sekarang aku sudah kelas
dua SMA.ya,pak rozak telah menyelamatkan pendidikanku.malah dia membelajariku
menjahit dan membantunya kerja.dia adalah salah satu anggota DPRD kota malang
yang mempunyai usaha konveksi.
“hai Dan!” jbug,jbug,jbug
Aku langsung dikeroyok
tiga orang yang tak kukenal setelah aku keluar dari kamar kecil.aku tak bisa
membalasnya.tak ada orang yang melihat kejadian ini dan setelah mereka puas
memukuliku mereka langsung lari.
Rasanya aku melayang jauh
keatas awan dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.
Aku mulai sadar ketika
melihat seorang gadis sudah ada disampingku dan aku sedang berada dalam rumah
sakit.
“aku kenapa?”kataku sambil
mengeluh memegang kepala.
“sudahlah kamu baik-baik
saja kok.kamu nggak apa-apa”tuturnya lembut sekali.aku merasa aku tidak
mengenali diriku sendiri.aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya bahkan
orang-orang disekelilingku satu pun aku tidak kenal.kenapa aku bisa begini?!
Menurut mereka yang menjengukku
namaku Dani dan ketika hanya ada seorang gadis tadi yang ada disampingku saat
didalam kamarku sepi, dia menceritakan bahwa namanya adalah keisya.dia mengaku
pacarku. akupun menerima semua pengakuan tentang hubunganku dengannya. entah
yang diceritkan itu salah atau benar aku tak tahu.
“sayang,minum obat dulu
ya…”begitu dia berkata padaku saat aku usai disuapin oleh key.dia membuka
tasnya.
“lho kok obat itu?
Bukannya obat yang ada di meja sampingku ini?”
“sayang,ini obat baru beli
dari apotek.ini obat yang mempercepat kesembuhan kamu dan agar kamu cepat ingat
kembali seperti dulu.”ucapnya dengan bibir lentiknya yang manis.
Obat itu berbentuk serbuk.
sepertinya aku pernah melihatnya. pelan-pelan sepertinya aku pernah melihat
gadis ini sebelum aku amnesia.tapi siapa ya? Aku terima saja kata-katanya bahwa
dia pacarku karena aku tidak ingat semuanya.
“sayang,ayo coba
diminum..”ucapnya dengan nada lembut dan penuh perhatian.
Celeguk,
Aku
meminumnya. tiba-tiba kepalaku pusing, badanku gemetar semua dan suhu tubuhku
turun drastis kira-kira 10 derajat Celsius.aku seperti hippotermia padahal aku
tidak berada di kutub utara. badanku kejang-kejang.yang bisa kulihat sekarang
seperti maut menjemputku sementara keisya yang duduk disampingku sendirian
sedang tersenyum sinis kepadaku. sejenak aku mulai ingat bahwa keisya pernah
membujukku untuk memakai sebuah obat berbentuk serbuk untuk di suntikkan
kedalam tubuhku tapi apa ya?! Ingatanku mulai hilang dan semua seperti
gelap.aku akhirnya tidak ingat apa-apa lagi untuk selamanya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar