Kamis, 07 Januari 2010

Kabut dioksin



Senja berbayang, beresonansi dengan hidup yang nilainya tak dapat ditentukan seperti entalpi dalam kimia. kira-kira sepuluh tahun yang lalu. setengah lima sore saat gerimis habis hujan menjemput. dalam sebuah rumah reot aku beranjak kelas 2 MI. ibukku sedang masak nasi aking yang biasa menjadi makanan bebek. kami sekeluarga saat itu sangat miskin.
            “masak apa bu’?” “seperti biasanya le, masak nasi aking. ibu sedih karena persediaan nasi kering tinggal yang ibu masak ini.entah kita besok makan apa.tapi jangan kuatir mbah pasti akan ke kota untuk menarik becak dan insya Alloh besok kita masih bisa makan kok”ujar ibu dengan senyum mengembang.
Kemudian integral kehidupan menuliskan rumusnya dalam hamparan cakrawala yang menjadi saksi bisu kehidupan. secercah cahaya dari lampu  dop atau lampu bohlam memberi isyarat sebuah alur takdir. sebuah mobil datang ke rumah kami...
            Kelas 3 SMP aku kembali mengalami masa-masa sulit. saat itu aku tinggal di sebuah koperasi yang hampir bangkrut di kota. sebenarnya aku di sana bekerja sambil sekolah namun saat aku kelas 3 yang menuntutku agar harus fokus ke UN agar dapat lulus aku  malah mendapat masalah,meski masalah klasik.ya,masalah ekonomi. SPPku menuggak 1 semester dan jika aku tidak bisa membayar besok senin maka aku tidak boleh mengikuti ujian nasional bahkan aku akan dikeluarkan!
            Saat itu hari kamis. aku bolos untuk menemui ibuku di tempat kerjanya.sebuah warung yang cukup mewah kala itu.aku mengadu padanya tentang masalahku.dia tidak bisa berbuat apa-apa karena majikannya sangat pelit.dia hanya bisa memberiku uang dua puluh ribu hasil pinjaman pada temannya.”mau gimana lagi le..ibu tidak bisa mencari uang sebesar itu.kalo toh kamu dikeluarkan ya pulang saja ke kampung.berdoa saja semoga ada jalan keluar dan kamu bisa neruskan dan bisa lulus.”
            Aku kembali ke koperasi.aku harus bisa! Aku tidak boleh menyerah!
            “minta bantuan saja sama orang-orang koperasi. mungkin mereka bisa membantumu”ucap penjual nasi goreng depan koperasi.
            Kemudian hari sabtu aku bolos lagi bersama seorang temanku.kali ini aku ke alun-alun.catatan nomor telepon beberapa orang yang kukenal adalah modalku.aku menuju telepon umum.aku merogoh saku.ada lima buah uang logam seratus ratus rupiah.aku memasukkan satu.nomor telepon pertama yang ku lihat adalah pak rozak.
            “halo,assalamu’alaikum”
 .........
“jika kita integral parsialkan maka kita akan menyelesaikan dengan dua rumusan.rumusan pertama yaitu..”kata pak yitno menerangkan di depan kelas.
“hey dan,” bisik keisya di sampingku yang tiba-tiba memegang mesra tanganku saat jam pelajaran berlangsung.diam-diam dia memberikan bungkusan plastic kecil yang didalamnya obat berbentuk serbuk.
“maaf key aku nggak pake ini”
“ayolah,nanti kamu akan tau rasanya seperti melayang-layang di atas awan.”
Dasar kabut dioksin sialan! Nggak nyangka cewek secantik ini jadi pengedar narkoba.amit-amit dech aku jadi pacarnya,sudah mati aku sekarang Cuma karena narkoba!Aku langsung ijin pamit ke pak yitno untuk kebelakang.
Sekarang aku sudah kelas dua SMA.ya,pak rozak telah menyelamatkan pendidikanku.malah dia membelajariku menjahit dan membantunya kerja.dia adalah salah satu anggota DPRD kota malang yang mempunyai usaha konveksi.
“hai Dan!” jbug,jbug,jbug
Aku langsung dikeroyok tiga orang yang tak kukenal setelah aku keluar dari kamar kecil.aku tak bisa membalasnya.tak ada orang yang melihat kejadian ini dan setelah mereka puas memukuliku mereka langsung lari.
Rasanya aku melayang jauh keatas awan dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.
Aku mulai sadar ketika melihat seorang gadis sudah ada disampingku dan aku sedang berada dalam rumah sakit.
“aku kenapa?”kataku sambil mengeluh memegang kepala.
“sudahlah kamu baik-baik saja kok.kamu nggak apa-apa”tuturnya lembut sekali.aku merasa aku tidak mengenali diriku sendiri.aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya bahkan orang-orang disekelilingku satu pun aku tidak kenal.kenapa aku bisa begini?!
Menurut mereka yang menjengukku namaku Dani dan ketika hanya ada seorang gadis tadi yang ada disampingku saat didalam kamarku sepi, dia menceritakan bahwa namanya adalah keisya.dia mengaku pacarku. akupun menerima semua pengakuan tentang hubunganku dengannya. entah yang diceritkan itu salah atau benar aku tak tahu.
“sayang,minum obat dulu ya…”begitu dia berkata padaku saat aku usai disuapin oleh key.dia membuka tasnya.
“lho kok obat itu? Bukannya obat yang ada di meja sampingku ini?”
“sayang,ini obat baru beli dari apotek.ini obat yang mempercepat kesembuhan kamu dan agar kamu cepat ingat kembali seperti dulu.”ucapnya dengan bibir lentiknya yang manis.
Obat itu berbentuk serbuk. sepertinya aku pernah melihatnya. pelan-pelan sepertinya aku pernah melihat gadis ini sebelum aku amnesia.tapi siapa ya? Aku terima saja kata-katanya bahwa dia pacarku karena aku tidak ingat semuanya.
“sayang,ayo coba diminum..”ucapnya dengan nada lembut dan penuh perhatian.
Celeguk,
            Aku meminumnya. tiba-tiba kepalaku pusing, badanku gemetar semua dan suhu tubuhku turun drastis kira-kira 10 derajat Celsius.aku seperti hippotermia padahal aku tidak berada di kutub utara. badanku kejang-kejang.yang bisa kulihat sekarang seperti maut menjemputku sementara keisya yang duduk disampingku sendirian sedang tersenyum sinis kepadaku. sejenak aku mulai ingat bahwa keisya pernah membujukku untuk memakai sebuah obat berbentuk serbuk untuk di suntikkan kedalam tubuhku tapi apa ya?! Ingatanku mulai hilang dan semua seperti gelap.aku akhirnya tidak ingat apa-apa lagi untuk selamanya...

Tidak ada komentar: