Senin, 30 November 2009

Portable World




Embun pagi mulai menetes dari pucuk daun yang kedinginan. Pagi laksana membuka kehidupan baru. Sangat indah. Ah, salah tetapi tepatnya sangat-sangat indah. Inilah alam ciptaan tuhan yang maha kuasa. Untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaanNya.

Satu,

Kesalahan yang sering diperbuat orang(termasuk aku sendiri) adalah memikirkan mimpi-mimpi bukan melaksanakan mimpi-mimpi(baca melaksanakan sesuatu untuk meraih mimpi-mimpi itu).

Dua,

Memenuhi pikiran dengan hal-hal kecil akan memberi peluang kecil terhadap pikiran-pikiran besar. artinya, kebanyakan memikirkan sesuatu hal yang sepele akan menghambat pertumbuhan gagasan-gagasan yang besar.

Aku berlari menerobos pagi dan malam
Dalam lirihan asa yang tak terbayang
Dan semua melebur dengan pasti
Bukan dengan kasih

Tak selalu berdiri
Terkadang hidup dalam lembah kurva sin
Tak selalu menangis
Terkadang
Menikmati taman langit di balik awan cerah

Tes,

Sekali lagi embun menetes dari pucuk daun pohon jambu depan rumahnya. Dari samping jendela kamarnya yang biru langit dia menerawang keluar sana. ke langit yang mulai tenggelam dalam lautan cahaya pagi yang cerah dan indah. Keluar jauh sekali menuju sebuah dunia baru. Dunia yang tak pernah dijamah oleh orang lain. Dia sering menamakannya portable world atau dunia yang mudah dibawa kemana-mana karena hanya ada dalam pikiran. Dunia itu di balik awan-awan tipis. Dunianya sendiri. yang ditempati sendiri. Dan yang akan ditinggalkan sendiri.

Matanya mulai menerawang ke masa lalu.

Saat-saat dimana dia berjaya. Farhan, namanya farhan. Pemuda tampan dengan segudang kecerdasan tetapi miskin sekali. Dia teringat ketika masa-masa berjayanya di SMA.
Siang dengan sengat mentari yang bertarung dengan semangat menjelma menjadi sebuah pintu terakhir peradaban dirinya sendiri. Semua siswa berkumpul di aula dengan menggenggam ijazahnya masing-masing. Dalam duduknya farhan menangis menunduk tanpa ada yang mengetahui.”gue nggak kan bisa kuliah”
…………..
Dia mengusap air matanya yang mulai meleleh di pagi yang cerah ini. ‘ah, dasar cengeng! Masa’ cowok bisa nangis kayak gini sih… gue nggak akan nagis Cuma gara-gara siklus krebs doang!’ dalam hatinya bergemuruh sifat berontak.
“tapi buat apa juga gue sedih terus-terusan lebih baik sekarang memulai kehidupan baru. Kehidupan mandiri. Dengan bekal otak ini dan keyakinan kepada sang kuasa gue akan nyoba bertahan mempertahankan kehidupan gue sendiri. Ini semua pasti ada hikmahnya. gue diberi cobaan seperti ini karena gue mampu untuk menghadapinya.”

::hidup raditya dhika!:: hehehe…

Ia tertawa kecil melihat tulisan di belakang pintu kamarnya. ::hidup raditya dhika!:: tulisan itu dibuatnya sendiri untuk menghiburnya sewaktu putus asa atau sedih sedang melanda. Karena dengan mengingat raditya dhika ia mengingat kembali sebuah novel yang dibeli dari orang yang belakangan di ketahui  the-homo-sapiens. Novelnya berjudul “kambing jantan”. Mengingat kejadian jual beli dengannya dan isi novel tersebut ia menjadi geli dan merasa bodoh.
“ah, dasar cowok konyol yang membodohi kehidupannya dengan hal-hal yang memang sangat bodoh dan gokil…hahaha… artis masa depan yang diramalkan kecebur got waktu jalan sama pacarnya…hehehe”
Emang siapa yang ngeramal? emang loe percaya yang gitu-gituan?? Nggak boleh lho! Dosa tau!!
‘Ah, itu sich ramalan-ramalan gue sendiri…ramalan ngawur dan gue nggak niatin itu untuk sebuah ramalan, kalo bahasa angkotnya cangkem sukur njiplak ae terserah dong. Gue juga ga’ bakalan percaya itu karena itu cuman ngehibur diri gue aja habis nangis tadi’ katanya dalam hati sembari bangkit dari kursinya dan keluar kamar.

Langit mulai menebarkan butiran-butiran lembut cahaya pagi. Benih-benih fajar subuh dalam liang kegelapan telah lenyap tersantap mega kuning yang membahana dari ufuk timur. Bulan tersapu kilauan matahari yang melayang perlahan menjauhi bumi. Kicauan burung mengiringi langkah kaki petani desa yang berangkat ke sawah bersama cangkulnya. Bersiap menghadapi nasib, takdir dan kewajiban untuk dan dalam kehidupan.
Farhan keluar rumah sambil telanjang kaki dan berlari-lari kecil melewati jalan setapak di samping rumah menuju lautan persawahan desa. Inilah saat yang sangat membahagiakan ketika pagi mulai terbit. Dia jogging mengelilingi pematang sawah. Gunung pitri tidur mulai menampakkan tubuh indahnya dan bersama selimut cahaya kuning mentari, awan-awan tipis merekahkan kebahagiaan dan semangat setiap orang. Subhanallah, inilah tanda-tanda kekuasaan tuhan yang tiada bandingnya.
great, amazing guys, what a wonderful world, subhanallah’ kata yang selalu di ucapkan dalam hatinya saat pagi merekah cerah memberi semangat.
Kemudian dia berhenti berlari dan berjalan menuju bawah pohon kelapa yang batangnya melengkung seperti pohon kelapa yang biasa ada di pantai dan beristirahat.
Huft,
Dia kembali menerawang ke ke atas sana. Jauh sekali. Kemudian pandangannya turun ke puncak gunung putri tidur. Pandangannya menuruni tebing-tebing curam yang tampak dari jauh berwarna hijau. Samar-samar ingatannya pada sebuah mobil mainan hitam. Di bagian bampernya lebar dan semakin ke belakang semakin menyempit. Gambar jaring seperti jaring laba-laba menyelimuti seluruh bodinya. Tak salah lagi, beak spider. Mobil jenis mini 4wd alias tamiya itu sekarang melaju pesat dalam pikirannya.
Baginya, mobil itu bukan sekedar mobil mainan anak-anak melainkan sebuah semangat yang tak pernah padam. Mobil miliknya waktu kecil itu memang sering menjadi juara satu di berbagai perlombaan tamiya mulai dari tingkat lokal sampai nasional. Meski umurnya sekarang sudah menginjak lebih sepuluh tahun dinamonya masih mampu menggerakkan mobil melaju di pasir, jalan setapak, di atas rel kereta api bahkan mampu melaju di dasar sungai kecil melawan arus air.
Benar apa yang dikatakan pak yahya, guru IPA sekaligus guru psikologi sekaligus guru ngaji yang tak pernah berijazah itu.“banyak ide-ide besar gagal muncul hanya karena kita sibuk memikirkan hal-hal kecil. Maka boleh dianalogikan, hidup ini seperti kurva sin yang bergelombang seperti ombak dan kita ada di salah satu titiknya. Tergantung cara pandang kita dalam menyimpulkan kita berada dimana. Yang jelas, mimpi untuk dilaksanakan bukan untuk dipikirkan.”
Huft,
Dan dunia portable yang ada dalam benaknya kemudian menghilang. Dia sadar harus melaksanakan mimpi-mimpinya dengan segala cara asal halal. Apapun yang terjadi.
Beak spider melesat merobek udara. ‘Semangat beak spider!’

Tidak ada komentar: