Embun pagi
mulai menetes dari pucuk daun yang kedinginan. Pagi laksana membuka kehidupan
baru. Sangat indah. Ah, salah tetapi tepatnya sangat-sangat indah. Inilah alam
ciptaan tuhan yang maha kuasa. Untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaanNya.
Satu,
Kesalahan yang
sering diperbuat orang(termasuk aku sendiri) adalah memikirkan mimpi-mimpi
bukan melaksanakan mimpi-mimpi(baca melaksanakan sesuatu untuk meraih
mimpi-mimpi itu).
Dua,
Memenuhi
pikiran dengan hal-hal kecil akan memberi peluang kecil terhadap
pikiran-pikiran besar. artinya, kebanyakan memikirkan sesuatu hal yang sepele
akan menghambat pertumbuhan gagasan-gagasan yang besar.
Aku berlari
menerobos pagi dan malam
Dalam lirihan
asa yang tak terbayang
Dan semua
melebur dengan pasti
Bukan dengan
kasih
Tak selalu
berdiri
Terkadang
hidup dalam lembah kurva sin
Tak selalu
menangis
Terkadang
Menikmati
taman langit di balik awan cerah
Tes,
Sekali lagi
embun menetes dari pucuk daun pohon jambu depan rumahnya. Dari samping jendela
kamarnya yang biru langit dia menerawang keluar sana. ke langit yang mulai tenggelam dalam
lautan cahaya pagi yang cerah dan indah. Keluar jauh sekali menuju sebuah dunia
baru. Dunia yang tak pernah dijamah oleh orang lain. Dia sering menamakannya portable world atau dunia yang mudah
dibawa kemana-mana karena hanya ada dalam pikiran. Dunia itu di balik awan-awan
tipis. Dunianya sendiri. yang ditempati sendiri. Dan yang akan ditinggalkan
sendiri.
Matanya mulai
menerawang ke masa lalu.
Saat-saat
dimana dia berjaya. Farhan, namanya farhan. Pemuda tampan dengan segudang
kecerdasan tetapi miskin sekali. Dia teringat ketika masa-masa berjayanya di
SMA.
Siang dengan
sengat mentari yang bertarung dengan semangat menjelma menjadi sebuah pintu
terakhir peradaban dirinya sendiri. Semua siswa berkumpul di aula dengan
menggenggam ijazahnya masing-masing. Dalam duduknya farhan menangis menunduk
tanpa ada yang mengetahui.”gue nggak kan
bisa kuliah”
…………..
Dia mengusap
air matanya yang mulai meleleh di pagi yang cerah ini. ‘ah, dasar cengeng!
Masa’ cowok bisa nangis kayak gini sih… gue nggak akan nagis Cuma gara-gara siklus krebs doang!’ dalam hatinya
bergemuruh sifat berontak.
“tapi buat apa
juga gue sedih terus-terusan lebih baik sekarang memulai kehidupan baru.
Kehidupan mandiri. Dengan bekal otak ini dan keyakinan kepada sang kuasa gue
akan nyoba bertahan mempertahankan kehidupan gue sendiri. Ini semua pasti ada
hikmahnya. gue diberi cobaan seperti ini karena gue mampu untuk menghadapinya.”
::hidup
raditya dhika!:: hehehe…
Ia tertawa
kecil melihat tulisan di belakang pintu kamarnya. ::hidup raditya dhika!::
tulisan itu dibuatnya sendiri untuk menghiburnya sewaktu putus asa atau sedih
sedang melanda. Karena dengan mengingat raditya dhika ia mengingat kembali
sebuah novel yang dibeli dari orang yang belakangan di ketahui the-homo-sapiens.
Novelnya berjudul “kambing jantan”. Mengingat kejadian jual beli dengannya dan
isi novel tersebut ia menjadi geli dan merasa bodoh.
“ah, dasar
cowok konyol yang membodohi kehidupannya dengan hal-hal yang memang sangat
bodoh dan gokil…hahaha… artis masa depan yang diramalkan kecebur got waktu
jalan sama pacarnya…hehehe”
Emang siapa yang ngeramal? emang loe percaya
yang gitu-gituan?? Nggak boleh lho! Dosa tau!!
‘Ah, itu sich
ramalan-ramalan gue sendiri…ramalan ngawur dan gue nggak niatin itu untuk
sebuah ramalan, kalo bahasa angkotnya cangkem
sukur njiplak ae terserah dong. Gue juga ga’ bakalan percaya itu karena itu
cuman ngehibur diri gue aja habis nangis tadi’ katanya dalam hati sembari bangkit
dari kursinya dan keluar kamar.
Langit mulai
menebarkan butiran-butiran lembut cahaya pagi. Benih-benih fajar subuh dalam
liang kegelapan telah lenyap tersantap mega kuning yang membahana dari ufuk
timur. Bulan tersapu kilauan matahari yang melayang perlahan menjauhi bumi.
Kicauan burung mengiringi langkah kaki petani desa yang berangkat ke sawah
bersama cangkulnya. Bersiap menghadapi nasib, takdir dan kewajiban untuk dan
dalam kehidupan.
Farhan keluar
rumah sambil telanjang kaki dan berlari-lari kecil melewati jalan setapak di
samping rumah menuju lautan persawahan desa. Inilah saat yang sangat
membahagiakan ketika pagi mulai terbit. Dia jogging
mengelilingi pematang sawah. Gunung pitri tidur mulai menampakkan tubuh
indahnya dan bersama selimut cahaya kuning mentari, awan-awan tipis merekahkan
kebahagiaan dan semangat setiap orang. Subhanallah,
inilah tanda-tanda kekuasaan tuhan yang tiada bandingnya.
‘great, amazing guys, what a wonderful world,
subhanallah’ kata yang selalu di ucapkan dalam hatinya saat pagi merekah
cerah memberi semangat.
Kemudian dia
berhenti berlari dan berjalan menuju bawah pohon kelapa yang batangnya
melengkung seperti pohon kelapa yang biasa ada di pantai dan beristirahat.
Huft,
Dia kembali
menerawang ke ke atas sana.
Jauh sekali. Kemudian pandangannya turun ke puncak gunung putri tidur.
Pandangannya menuruni tebing-tebing curam yang tampak dari jauh berwarna hijau.
Samar-samar ingatannya pada sebuah mobil mainan hitam. Di bagian bampernya
lebar dan semakin ke belakang semakin menyempit. Gambar jaring seperti jaring
laba-laba menyelimuti seluruh bodinya. Tak salah lagi, beak spider. Mobil jenis mini 4wd alias tamiya itu sekarang melaju
pesat dalam pikirannya.
Baginya, mobil
itu bukan sekedar mobil mainan anak-anak melainkan sebuah semangat yang tak
pernah padam. Mobil miliknya waktu kecil itu memang sering menjadi juara satu
di berbagai perlombaan tamiya mulai dari tingkat lokal sampai nasional. Meski
umurnya sekarang sudah menginjak lebih sepuluh tahun dinamonya masih mampu
menggerakkan mobil melaju di pasir, jalan setapak, di atas rel kereta api
bahkan mampu melaju di dasar sungai kecil melawan arus air.
Benar apa yang
dikatakan pak yahya, guru IPA sekaligus guru psikologi sekaligus guru ngaji
yang tak pernah berijazah itu.“banyak ide-ide besar gagal muncul hanya karena
kita sibuk memikirkan hal-hal kecil. Maka boleh dianalogikan, hidup ini seperti
kurva sin yang bergelombang seperti ombak dan kita ada di salah satu titiknya.
Tergantung cara pandang kita dalam menyimpulkan kita berada dimana. Yang jelas,
mimpi untuk dilaksanakan bukan untuk dipikirkan.”
Huft,
Dan dunia portable yang ada dalam benaknya
kemudian menghilang. Dia sadar harus melaksanakan mimpi-mimpinya dengan segala
cara asal halal. Apapun yang terjadi.
Beak spider melesat merobek udara. ‘Semangat beak spider!’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar